The Story: Late


YoonhaeThe Story
Title : The Story: Late
Cast : Lee Donghae ‘Super Junior’
Im YoonA ‘SNSD’
Genre : Romance, Friendship
Length : One-Shoot
Rating : General
Disclamair : This my 1st fanfiction, i hope you enjoy with this story.
*********************************************************************

Mentari pagi muncul diufuk timur, kilauan sinarnya yang hangat seolah membangkitkan jiwa. Embun pagi masih menghiasi rerumputan, kicauan para burung pun seakan menjadi lantunan simfoni yang mengalun indah dilangit.
Tampak seorang gadis cantik dengan balutan blouse berwarna putih yang dipadu padankan dengan jeans berwarna biru serta kacamata yang bertengger dihidung mancungnya. Tampak ditangan gadis itu sebuah buku yang tidak terlalu tebal.
Ia menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon besar sekedar untuk melepas penat siang itu. Rambutnya yang panjang terurai cantik dengan terpaan angin lembut. Sedetik kemudian ia membalikkan halam pertama buku yang ia pegang.
“Benar-benar hari ini sungguh melelahkan.” Ucap gadis yang bernama lengkap Im Yoona itu sambil membuka halaman pertama bukunya.
“Sampai dimana kemarin aku membacanya ?” gadis itu terus membolak-balikkan halaman bukunya, bermaksud mencari halaman yang ia maksud. Dengan jari-jari lentiknya ia terus membuka halaman demi halaman.
Benar saja, Yoona memang gemar sekali membaca buku terutama buku dengan tema cerita cinta klasik. Hampir tiap waktu luangnya ia habiskan hanya untuk membaca deretan kata-kata yang tertuang pada sebuah kertas yang terangkai menjadi sebuah cerita. Hingga ia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang menghampirinya.
“Yoooooongg~~~~~” teriak seorang laki-laki tampan tepat disamping telinga Yoona.
“Kyaaaaa, kau hampir membuat jantungku berhenti, eooh !!!” Yoona menoleh sambil memukul pelan bahu pria itu. Yoona sedikit memegang telinganya akibat sebuah teriakan yang sedikit mengganggu gendang telinganya.
Seorang yang diketahui bernama Lee Donghae, adalah sahabat Yoona semenjak kecil.
“Kau membaca buku ini lagi ?” tanya Donghae dengan menolehkan kepalanya guna memperjelas judul buku yang menurutnya sudah familiar itu.
“Aku sudah membacanya berulang kali, tapi aku tidak pernah merasa bosan sedikit pun dengan buku ini,” jawab Yoona tanpa melihat kearah lawan bicaranya itu.

Pantas saja gadis itu tidak pernah bosan untuk membaca buku kesayangannya tersebut. Buku yang bermotifkan sepasang merpati yang bertengger didahan sebuah pohon dengan berlatarkan menara Eiffel itu berisikan kisah romansa layaknya cerita di sebuah negeri dongeng.
Yoona selalu memimpikan kisah cintanya akan berjalan bagaikan kisah putri dan pangeran di negeri dongeng. Kehidupan yang damai disebuah istana dengan berhiaskan kebahagian.
“Apakah kau tidak lapar ?” tanya Donghae lagi,
“Sebenarnya aku tidak begitu lapar,” Yoona masih serius membaca bukunya.
“Aku tau kau tidak akan merasa lapar jika kau sudah ‘melahap’ buku mu itu,” mendengar jawaban Yoona, pria dengan pakaian kaos berwarna biru dibalutkan cardigan putih tampak ekspresinya sedikit kecewa.
“Ayolaah temani aku makan, kau taukan aku tidak bisa makan sendiri ?” pinta Donghae sambil menurunkan buku dihadapan Yoona, agar ia dapat melihat wajah gadis itu.
“Kau harus mentraktir ku hari ini, karena kau telah mengganggu acara ‘makan’ siang ku,” Yoona menatap Donghae dengan sedikit membulatkan matanya.
“Baiklah tuan putri, kau bisa sepuasnya makan hari ini,”
Keduanya tersenyum dan beranjak kesebuah tempat yang akan mereka tuju. Langkah kaki mereka beriringan menuju pelataran parkir.
Dilajukannya mobil kecil namun terlihat mewah itu dijalanan yang ramai, ban yang terus berputar diaspal mengantarkan sang pemilik menuju tempat yang akan mereka datangi.

The Story : Late

Mereka pun menuju sebuah kedai makanan yang sudah menjadi tempat favorite makan mereka. Tempat dengan nuansa hijau dan berhiaskan kolam itu memang sering mereka kunjungi disaat waktu luang. Di tempat inilah biasanya Yoona dan Donghae menghabiskan waktu bersama.
Tak butuh waktu yang lama, pesanan mereka pun datang. Dengan segera mereka melahap beberapa makanan yang telah mereka pesan. Sesekali pandangan mereka menatap kearah jendela kaca menampilkan pemandangan jalanan kota Seoul yang ramai.
“Heeii, kau bilang kau tidak lapar tapi lihatlah kau bahkan makan dengan lahap melebihiku ?” Donghae menatap kearah gadis itu dengan sedikit menggodanya.
“Apakah kau tidak tahu, jika sesuatu yang telah berhubungan dengan makanan akan menjadi nomor 1 bagiku,” gadis itu menjawab dengan sedikit menyuapkan makanan kemulutnya. Yoona memang gemar sekali makan, tetapi tidak membuat tubuh indahnya dihiasi oleh lemak. Tubuhnya ramping dengan kulitnya yang putih.
“Lalu bagaimana dengan ku, aku yang nomor berapa bagimu ?” Sambil menunjuk dirinya sendiri pria itu (lagi) bertanya,
Kemudian dengan sedikit ekspresi berpikir, Yoona menjawab pertanyaan yang menurutnya sedikit ‘konyol’ , “Apa maksudmu, ?”
“Lupakanlah, itu pertanyaan tidak penting. Cepat habiskan makananmu kemudian kau ikut aku!” , Donghae sedikit melirik kearah gadis itu dengan memberikan sedikit senyuman dan langsung melahap makanan dihadapannya.
Yoona tampak bingung, “Memangnya kita akan kemana ?”
“Kau akan tahu nanti,” Donghae membalas dengan (lagi) memberikan senyum terindahnya.
Yoona sedikiti mendengus agar tidak terdengar Donghae. Gadis itu tampak berpikir akan diajak kemana oleh pria dihadapannya tersebut.
“Kau ini, aku jadi curiga padamu. Jangan-jangan kau akan menculik ku ya?”, Yoona memberhentikan aktivitas menyuapkan makanannya sejenak dan menatap Donghae dengan sedikit memincingkan matanya.
Mendengar lawan bicaranya berbicara seperti itu, Donghae memandangnya dengan tatapan terkejut. Ia membulatkan matanya, “Yaaaakk, apakah wajahku ini seperti seorang penjahat, lagipula mana ada penculik yang ingin menculik wanita sepertimu. Jika sang penculik berhadapan dengan mu aku yakin penculik itu akan terkapar sebelum membawa mu kabur. Kau itu kan… ”, belum sempat Donghae menyelesaikan ucapannya ia justru tertawa dengan puasnya.
Gadis itu terlihat kesal, “Oppa~~~kau benar-benar menyebalkan”, Yoona memukul bahu Donghae pelan. Donghae yang melihatnya pun sedikit tertawa, ia menjahili lagi gadis itu.
Kegemarannya tak pernah berhenti menggodai sahabatnya itu. Tak ada hari yang ia lewatkan untuk menggoda gadis yang sangat menyukai sebuah boneka yang berasal dari negeri sakura Jepang –Rilakkuma-
Gelas dan piring makanan dihadapan mereka sudah tak tersisa, beberapa pengunjung silih berganti masuk dan meninggalkan tempat. Namun mereka masih menikmati waktu yang tersisa, diselingi dengan percakapan ringan.
Tak terasa matahari kini telah sampai ditengah khatulistiwa, kedua sahabat itu beranjak meninggalkan tempatnya. Dilajukannya lagi mobil mewah itu menuju tempat yang masih dirahasiakan.

***

Dilangit yang cerah dan menampakkan sinar terangnya kala siang itu. Namun tak mengurangi langkah kedua manusia ini untuk mengunjungi sebuah tempat yang begitu familiar untuk mereka berdua. Sebagai saksi sejarah persahabata mereka.
Tampak disana terdapat 2 buah bangunan yang tidak begitu besar dengan penuh warna warni mewarnai bangunan tersebut. Sebuah pohon hijau kekuningan menambah kesejukkan ditempat itu. Seakan memberikan kesejukan dikala teriknya matahari yang menerpa.
Tidak terlalu ramai hanya segelintiran orang yang sedang menjalankan aktivitasnya, membuat mereka lebih leluasa menikmati pemandangan dihadapan mereka. Setelah melepas penat sejenak gadis itu menanyakan kepada pria disampingnya yang tampak terbuai oleh kenangan indah masa lalunya.
“Kenapa kau membawa ku kesini ?”,
Donghae tersenyum, kemudian ia menoleh melihat kearah Yoona sejenak dan kembali menatap kearah depan. “Apa kau ingat saat pertama kita bertemu?”,
Mendengar pertanyaan dari Donghae membuat Yoona sedikit mengernyitkan dahinya, ia tampak bingung kenapa ‘sahabatnya ‘ ini menanyakan hal seperti itu.
“Oppa, kau hari ini tampak aneh sekali, apa kau sedang sakit? Eeuuh?”, Yoona menempelkan punggung tangannya ke dahi Donghae memastikan keadaan pria disampingnya itu sedang baik-baik saja. “Kenapa kau menanyakan hal itu?”, Dengan wajah polosnya Yoona kembali bertanya kepada Donghae.
“Waktu itu, saat kotak bekal makan siang ku tertinggal dirumah, kau menghampiriku dan menawarkan sepotong roti untuk ku makan padahal waktu itu kita bahkan belum berteman, iya kan ?”, Donghae sedikit mengingat masa lalunya ditempat ini, dengan wajah yang tak pernah lepas memandangi saksi tempat persahabatan mereka.
Pertemuan pertama mereka berawal ditempat ini, saat mereka masih ditaman kanak-kanak. Pohon itu masih nampak tertanam dengan kokoh, meskipun tak menampik bahwa pohon itu sudah semakin tua.
Mereka terlarut dalam kenangan , kenangan yang menjadi awal mulanya persahabatan ini terjalin. Terbuai dalam suasana indah dimasa lalu mereka, kejadian itu seakan berputar kembali dihadapan mereka saat ini. Cukup lama mereka terdiam ditempat yang banyak menyimpan kenangan mereka.
Donghae dan Yoona kecil memulai persahabatannya ditempat ini. Tak banyak yang berubah pada tempat ini, bahkan bangku itu masih setianya menempel ditanah coklat dan saat ini mereka disini.
Donghae tersenyum mengingat kejadian dimasa lampau, “Kau ingat tidak saat kau terjatuh dan menangis tanpa henti aku memberi mu permen dan kau langsung berhenti menangis itu sangat lucu bukan?”
Yoona mengangguk dengan pasti, “Aku ingat itu, bagaimana tidak menangis, waktu itu lututku berdarah dan itu sangat sakit,”
“Kau ini cengeng sekali,” Donghae mengusap puncak kepala Yoona,
Detik hari itu kian berlalu berganti jam yang kian berputar, mereka terlarut dalam kisah manis kecil. Donghae hanya ingin mengingat masa kcilnya bersama gadis yang kini menjadi sahabatnya selama bertahun-tahun.
***
Awan sudah tampak berwarna jingga memperlihatkan keelokkannya, terlihat sang surya seakan ingin kembali keperaduannya. Menyisakan langit cantik yang sebentar lagi akan berganti menjadi langit hitam yang akan bertabur bintang dihamparan lautan malam. Yoona yang tersadar jika hari semakin larut sore berniat untuk mengajak Donghae meninggalkan tempat ini.
“Apakah kau tak sadar jika sebentar lagi langit akan berubah menjadi malam, ayo kita pulang!”, ajak Yoona beranjak dari tempat duduknya,
“Aku akan selalu bersama mu Yoong, apapun yang terjadi aku akan disampingmu,” Donghae berbicara sangat pelan, ia berkata pada dirinya sendiri saat Yoona berlalu beranjak meninggalkannya.

The Story : Late

Hujan menemani sejuknya malam mereka, suara rintikan hujan membuat siapapun merasa tenang saat mendengarnya. Air terus mengalir dibalik kaca membiaskan sinar lampu-lampu ditengah padatnya kota dimalam hari.
Yoona terus memandangi hujan dari dalam sebuah ruangan yang berlapiskan dinding kaca. Dengan memegang segelas chocolate hangat ia meminum sedikit demi sedikit cairan yang berada dalam sebuah gelas berwarna putih itu. Hingga ia tak sadar bahwa Donghae sudah berada disampingnya yang juga ikut memegang segelas chocolate,
“kau sangat menyukai hujan bukan ?” kata Donghae sesaat setelah ia menyesap chocolatenya keduanya masih tetap menatap turunnya hujan yang mengalir melewati kaca rumah itu.
Yoona sedikit menoleh kearah Donghae dengan senyum terukir digaris wajahnya “hujan membuatku merasa tenang, ia akan terus mengalir sampai ia tak mampu lagi untuk menjatuhkan air kepermukaan bumi ini ”
Suara dentingan jarum jam seakan mengingatkan akan waktu yang terus berputar, sudah 5.400 detik mereka lewati bersama malam itu, duduk memandang hujan dan bercengkrama menghabiskan sisa malam yang dapat mereka lewati bersama.
Dengan pandangan kearah luar, Yoona menyandarkan kepalanya pada bahu Donghae. Malam yang semakin larut membuat Yoona terlelap dipundak seorang pria yang selalu menebarkan senyuman mematikannya itu. Kini mata indah itu telah terpejam, meninggalkan Donghae yang masih setianya menjaga gadis itu.
Donghae memandangi wajah sendu gadis disampingnya itu, semakin ia menatap wajah gadis itu perasannya semakin tak menentu. Jantungnya seolah berdetak sangat cepat, bukan hanya pada detik ini saja perasaan itu muncul namun entah sejak kapan ia mulai merasakannya ia tak menyadari bahwa perasaan ini akan muncul setiap ia bersama dengan Yoona. Perasaan yang dianggapnya berbeda dari hanya sekedar perasaan persahabatan. Terus dan terus memandang kearah Yoona yang telah larut dalam mimpi indahnya.
‘taukah kau perasaanku terhadapmu semakin berbeda, aku tak tahu ini salah atau tidak, tapi ku rasa aku jatuh cinta padamu Yoong, boleh kah aku yang mencuri hatimu dan membawanya kedalam hatiku’
Perasaan Donghae berkecamuk, menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada gadis yang telah lama menjadi sahabatnya itu. Bagaimana sekarang, apa yang harus ia lakukan ? Bahkan ia sendiri bingung apa yang harus ia lakukan
Donghae terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaannya pada Yoona, ia takut akan kehilangan Yoona sebagai sahabatnya namun tak dapat dipungkiri ia juga menginginkan Yoona untuk menemani hari-harinya. Namun bukankah selama ini mereka selalu bersama?
Ya, tapi bukan sebagai sahabat yang Donghae inginkan melainkan sebagai seorang kekasih yang ia cintai. Ia ingin Yoona selalu disisinya bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai seorang wanita yang akan ia cintai dihari-harinya.

***

Sudah beberapa hari berlalu sejak Donghae menyadari perasaannya terhadap Yoona, perasaan yang terus bergejolak. Sedikit bimbang, apakah harus ia utarakan perasaan itu atau hanya terus terpendam didalam hatinya yang nantinya akan terus membuatnya sesak.
Intensitas pertemuannya dengan Yoona semakin berkurang, ia sengaja menghindari gadis itu, menghindari kenyataan perasaannya. Donghae seolah lari dalam keadaan yang ia ciptakan sendiri.
Lamunan terus menemaninya dikala waktu senggang menghinggapinya, ia terlalu bingung apa yang harus dilakukan, apakah ia harus mengungkapkan persaannya itu tapi bagaimana jika Yoona jadi membencinya, atau memendam perasaan itu entah sampai kapan ia juga belum tahu jawabannya.
Bukannya tidak mengetahui sikap sahabat baiknya itu, Yoona menyadari apa yang sering Donghae lakukan akhir-akhir ini. Sesekali ia menangkap sosok Donghae yang terlihat menjadi lebih pendiam, kemana Donghae yang suka banyak bicara dan senang mengusilinya.
Donghae terlihat melamun saat gadis yang akhir-akhir ini ia sedikit hindari sedang berjalan kearah tempatnya melepas penat kala terik menerpa siang itu.
“Oppa apa yang sedang kau lakukan, kenapa melamun ?” tanya Yoona seraya memecah lamunan Donghae
“Ooo, yoona-ya kau mengagetkan ku saja, “ Donghae tersadar dari lamunannya, ingin rasanya ia pergi dari hadapan gadis ini.
“Kenapa akhir-akhir ini kau jarang sekali menemuiku, apa terjadi sesuatu ?”
Donghae hanya menggelengkan kepalanya tanpa menoleh kearah Yoona, bermaksud menjawab pertanyaanya. Yoona yang melihat sikap Donghae seperti ini sedikit bingung, ia kenal betul dengan sahabatnya ini.
Donghae yang dikenalnya adalah sosok periang dengan kejahilan yang sering ia ciptakan sekedar untuk menghibur dirinya, bukan seperti saat ini sosok yang pendiam dan lebih banyak melamunkan entah apa yang dirinya juga tidak tahu.
“Oppa, katakanlah jika kau ada masalah, bukankah kita ini sahabat. Kau bisa menceritakannya padaku ?” Yoona memberikan sebuah tatapan kepercayaan, ia ingin sahabatnya itu bercerita atas sikapnya yang tidak biasa ini.
Donghae seakan tercekat mendengar apa yang diucapkan oleh wanita yang telah membuatnya seperti ini, apa yang harus ia jawab.
Sejenak Donghae menatap lekat wajah Yoona, “apa yang akan kau lakukan jika kau jatuh cinta pada seseorang namun kau takut ia akan meninggalkan mu?”
Yoona tidak terlalu mencerna pertanyaan yang dilontarkan Donghae, tatapan matanya tak lagi seteduh biasanya, tatapan wajah yang seakan menuntut meminta jawaban.
“Apa yang kau bicarakan, apa kau sedang sakit hmm ?”
Donghae yang seolah tersadar dengan ucapannya itu hanya dapat memandang wajah Yoona dihadapannya. Mereka saling pandang mencari kejelasan atas keadaan yang telah tercipta.
“Lupakanlah,” Donghae beranjak meninggalkan Yoona yang seakan mematung dengan ucapan yang ia lontarkan.
Yoona semakin bingung, apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya itu. Pikiran gadis itu kian kalut, Donghae yang semakin hari semakin jarang ia temui serta pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya tidak biasa itu. Gadis itu terus mencoba menghubungkan apa yang sebenarnya terjadi.

***

“Apakah tidak ada hobi lain yang dapat kau kerjakan Yoona-ya ? Selalu saja buku itu lagi yang kau nikmati” , ucap salah seorang gadis yang secara tiba-tiba datang dan dengan santainya ia duduk dihadapan lawan bicaranya itu.
Yoona hanya tersenyum mendengar perkataan Seohyun yang tak lain adalah teman baiknya sendiri,
“Dimana Donghae oppa, biasanya kau selalu bersama dengannya terus ?” tanya Seohyun,
Pertanyaan yang sangat tepat ia lontarkan kepada Yoona, Donghae dan Yoona memang selalu bersama. Tapi saat ini dimana keberadaan Donghae ia semakin sulit ditemukan.
Yoona menutup bukunya sejenak, ia menerawang memikirkan jawaban yang mungkin ia juga tidak tahu apa jawabannya
“entahlah, akhir-akhir ini ia sering sulit ditemukan, ia juga belum menghubungiku” , terka Yoona
Seohyun pun membalas dengan menganggukkan kepalanya,
Sejenak perbincangan kedua gadis itu terhenti, Seohyun yang tengah sibuk dengan layar netbook-nya dan Yoona yang kembali bergelut dengan buku kesayangannya.
Seorang pria dari kejauhan menangkap sosok kedua gadis tersebut dan mencoba menghampirinya.
“Seohyun-ah” , teriak seorang pria dengan kulitnya yang putih bersinar, tampak berlari menghampiri gadis yang ia maksud,
Gadis itu –Seohyun- melambaikan tangannya membalas sapaannya “Kyuhyun oppa~~~”
Pria yang sedikit belari kearah dua gadis itu kini sudah berdiri dihadapan Yoona dan Seohyun
“Donghae… dia sudah pergi ke”, Ucap Kyuhyun dengan nafasnya yang masih memburu,
Yoona yang mendengar perkataan Kyuhyun terdiam seketika, seakan aliran darahnya terhenti ia tak mampu mengucapkan sepatah kata apapun. Ia sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Kyuhyun.
Sekalipun ia ingin menuntut penjelasan dari Kyuhyun namun seolah bibirnya terasa kelu, bagaimana bisa sahabatnya itu pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan apapun.
Seohyun yang mendengar ucapan itupun menoleh kearah Yoona sahabatnya yang tampak diam seperti patung, “Donghae oppa pergi kemana ?”, tanya Seohyun pada Kyuhyun seakan membantu Yoona yang seolah tak mampu menanyakan kemana Donghae pergi.
“Paris, dia pergi tadi malam”, Jawab Kyuhyun
“Oppa~~~”, Yoona berbicara dengan sangat pelannya
“Donghae meninggalkan ini untuk mu Yoona-ya” Kyuhyun memberikan sebuah kertas berwarna kuning –warna kesukaan Yoona-
Pria itu pergi jauh dan hanya meninggalkan sepucuk surat untuk Yoona.

***

Matanya yang indah tak pernah lepas untuk memandangi sebuah surat dari sahabat kecilnya. Kenapa pria itu meninggalkannya, bukankah dulu ia pernah berjanji untuk selalu menjaga dirinya. Tapi, lihatlah sekarang ia justru menghilang pergi, meninggalkan Yoona sendiri. Janji itu seolah sirna oleh sepucuk surat yang saat ini tengah ia baca, matanya terus membaca sederet kata demi kata,
Matanya tak berhenti mengeluarkan buliran air mata, ia kehilangan sebagian dari dirinya. Seseorang yang selalu menemaninya kini pergi dan entah kapan seseorang itu akan kembali. Seseorang yang sudah ia anggap sebagai kakak baginya.
Semenjak membaca surat itu Yoona semakin menyadari bahwa perasaannya kini, ah bukan tapi memang ia sudah merasakannya sejak lama, perasaannya semakin hari kian berbeda terhadap Donghae. Bukan lagi perasaan seperti kehilangan sahabat melainkan kehilangan sosok yang telah menemani hari-harinya.
Ia sadar bahwa Donghae telah masuk kedalam hatinya. Yoona juga ingin memberitahu pada pria itu bahwa ia juga mencintainya, bahkan sangat, sangat mencintainya.
“Oppa, kenapa kau pergi meninggalkan ku,” isak tangis Yoona seakan mewakili perasaannya ditinggal oleh Donghae, memecah kesunyian malam dikamarnya ia terus merutuki perasaannya saat ini.
Terlambat, mungkinkah kata itu yang pantas saat untuk disandangkan pada situasi saat ini ? Mengapa tak terpikirkan oleh Yoona perasaan ini, mengapa harus disaat Donghae telah pergi meninggalkannya ia baru tersadar.
The Story: Late

Tidak ada kata terlambat jika kau ingin mengubahnya, ubahlah apa yang masih bisa kau rubah. Terlambat dan tak mengubahnya hanya dapat membuat penyesalan yang akan terus menghinggap dan membuatmu kehilangan segalanya.
‘Late is simply a word that makes us look like a fool for having wasted opportunities and dispose of waste’
Terlamabat hanyalah sebuah kata yang membuat kita tampak seperti orang yang bodoh karena telah menyia-nyiakan kesempatan yang ada dan membuangnya dengan percuma.

-FIN-

__________________________________________________

Akhirnya bisa mengeluarkan perdana fanfiction, maaf ya kalo ceritanya kurang menarik dan kurang sana sini, maklumin aja baru pertama kali buat.

Jangan lupa commentnya yaa ^^

Advertisements

29 thoughts on “The Story: Late

  1. Pingback: The Story: Flashback | Deer Fishy & Magnae Couple

  2. Pingback: The Story: Forgotten [TEASER] | Deer Fishy & Magnae Couple

  3. Pingback: The Story: Forgotten | Deer Fishy & Magnae Couple

  4. kirain aku part 1 itu yg the story:hate,jdi aku komen dluan disana.hehe
    eh tau nya part 1 nya ternyata ini.
    ya maklum,reader baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: