The Story: Flashback


yoonhae_flashback
Title : The Story: Flashback
Cast : Lee Donghae
Im YoonA
Genre : Friendship
Length : One-Shoot
Rating : General
Disclamair : This 2nd series of The Story. I hope you can enjoy with this story.

The Story: Late

Setipa manusia pasti memiliki kenangan indah dimasa kecil, entah itu kenangan indah atau kenangan pahit.

The Story: Flashback

Flashback start
Bangunan itu tampak berdiri kokoh, tidak terlalu menjulang seperti gedung pencakar langit dikota-kota besar, bangunan itu nampak sederhana dengan dihiasa cat berwarna cerah warna-warni.

Tampak seorang anak kecil didalam sebuah kelas, ia terlihat sedang mencari sesuatu didalam tasnya yang berwarna biru. Terlihat ia tidak menemukan sesuatu yang ia cari didalam tasnya. Ia mendengus sedikit kecewa.
Setelah itu, karena ia tak mendapatkan apa yang ia cari ia melangkahkan kakinya keluar kelas menuju pada sebuah tempat bangku dengan cat warna putih tepat dibawah rindangnya pepohonan. Angin berhembus seolah ingin menghilangkan rasa kekecewaan yang ia rasakan.

Suasana tampak ramai oleh teman sebayanya yang kini sedang berlarian ditengah lapang, tapi tidak dengan dirinya yang terlihat tidak bersemangat dipagi menjelang siang itu. Disaat teman-temannya sedang asyik bermain, ia justru duduk sendiri dengan sedikit bergumam.

“Kenapa aku bisa lupa membawa bekal kotak makan ku, padahalkan ibu sudah menyiapkannya diatas meja makan tadi pagi, Huuuuh”, bocah itu berbicara pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba seorang anak perempuan berhenti didepannya, dan tampak dari wajahnya ia bertanya-tanya kenapa ekspresi bocah laki-laki ini tidak ceria seperti temannya yang lain yang sedang asyik menghabiskan waktu istirahatnya.

“Kau kenapa, kau tampak tidak bersemangat ?”, sang gadis kecil itu kini bertanya, mencoba mencari tahu mengapa bocah laki-laki ini tampak begitu sedih.

Sang bocah laki-laki itupun mengubah posisi kepalanya yang semula menunduk lesu dengan memandang kearah sang gadis kecil, “Aku… lapar, tapi bekal makan siangku tertinggal dirumah” bocah laki-laki ini menjelaskan mengapa ia tidak bersemangat ditengah teriknya sinar matahari.

“oohh begitu,” kini bocah perempuan ini sedikit berpikir sejenak. “Tunggu sebentar disini ya, aku akan kembali,” anak perempuan itu berlari meninggalkan bocah laki-laki tadi.

Gadis kecil ini terlihat berlari kedalam kelasnya, kemudian ia membuka isi tasnya mencari sesuatu. Saat sedang mencari sesuatu didalam tasnya, teman dari gadis itu menghampirinya, “Yoona ayo kita bermain lagi,” Gadis kecil yang telah diketahui bernama Yoona.

Im Yoona nama gadis kecil itu membalas ajakan temannya tanpa melihat ke arah wajah temannya dan ia masih sibuk mencari sesuatu didalam tasnya.”iya, kau duluan saja Jae In nanti aku akan menyusul”. Jawabnya yang masih sibuk dengan isi tasnya.

Jae In, sahabat kecil Yoona pun menjawab, “Baiklah aku tunggu dilapangan ya,” kemudian Jae In berlalu meninggalkan Yoona dikelas sendirian.

“Ini dia”, Yoona menemukan apa yang ia cari.

Setelah mendapatkan apa yang ia cari, gadis kecil ini kembali ketempat bocah laki-laki tadi yang masih terduduk dibangku.

“Ini untuk mu, makanlah !Tadi eomma ku membawakannya lebih, jadi daripada tidak dimakan untukmu saja” tawar sang gadis kecil, dan Yoona kecil pun memberikan sebuah roti pada bocah laki-laki itu dengan senyuman yang seperti malaikat kecil.

“Ini untuk-ku, aah terima kasih..”, bocah laki-laki ini tampak senang setelah mendapatkan sepotong roti yang telah diberikan dari gadis kecil bernama Yoona itu.

“Nama mu siapa?” tanya bocah laki-laki itu disela ia melahap rotinya,

Dengan senyumannya ia menjawab, “Aku Im Yoona, kau bisa memanggilku Yoona”

“Ooh, kalau aku Donghae, Lee Donghae” ia tampak menyeringai memperlihatkan senyum diwajahnya.

“Aku akan membalas kebaikan mu Yoona, dan mulai saat ini kita berteman”, Donghae masih terus melahap rotinya, ia sangat lapar siang itu.

Yoona hanya mengangguk dan tersenyum senang, kemudian ia beranjak pergi untuk bergabung dengan teman-temannya, sebelum benar-benar beranjak pergi Yoona membalikkan badannya dan berbicara “Donghae-ssi, lain kali kita makan roti bersama, ne ?”, tawar sang gadis kecil itu kepada bocah laki-laki yang bernama Donghae itu.
Donghae mengagguk dan menjawab “Baiklah,”

“Aahh iya, Donghae-ya sepertinya Jae In sudah menungguku dilapangan, apa kau mau ikut bermain ?”, ajak gadis kecil itu.

Setelah roti dimulutnya habis Donghae menerima ajakan Yoona, “Sepertinya tenaga ku sudah terisi kembali, ayo kita bermain bersama”

Keduanya pun segera berlari menghampiri teman-temannya yang sudah berada dilapangan dan segera menghabiskan waktu istirahat yang tersisa siang itu.

***

Kedua bocah ini nampak semakin akrab setiap harinya, bahkan tak jarang merekapun sering menghabiskan waktu istirahat mereka untuk memakan bekal bersama. Hingga suatu saat Donghae kecil berkata pada gadis kecil yang sekarang sudah menjadi teman akrabnya itu bahwa Yoona adalah satu-satunya teman yang paling dekat dengannya, kemudian Donghae berjanji kepada Yoona bahwa ia akan selalu menjaga teman kecilnya ini.

Terkadang diluar sekolah pun mereka sering menghabiskan waktu bersama, entah untuk bermain atau sekedar menyelesaikan tugas. Meskipun keduanya tidak dalam satu kelas, namun Donghae juga sering membantu Yoona dalam mengerjakan tugas sekolah.

The Story: Flashback

Suara bel begitu nyaring terdengar dipenjuru sekolah seakan menandakan bahwa jam sekolah yang telah berakhir. Para murid mulai keluar dari kelasnya dengan riang, hal yang sama dilakukan oleh Donghae dan Yoona. Meskipun dua bocah kecil itu berbeda kelas namun keduanya secara bersamaan menuju gerbang sekolah.

“Haii, kau ingin pulang bersama ?”, Donghae mengajak Yoona untuk pulang bersama.

“Ne, ayo kita pulang bersama dengan yang lainnya juga,” Yoona menerima ajakan teman barunya itu, kini mereka berjalan dijalan setapak yang ramai oleh para bocah kecil yang lainnya.

Langkah kaki kecil mereka tampak riang dengan senda gurau menapaki jalanan setapak ditengah kota kecil, nyanyian riang terus disenandungkan mengiringi perjalanan mereka.

***
Dengan senangnya Donghae menikmati sebungkus Ojingeo Ttangkong, yakni sebuah jajanan khas negeri ginseng. Snack ini terbuat dari cumi-cumi yang dipanggang dengan kacang dibagian tengahnya serta bentuknya yang unik membuat snack ini menjadi camilan favorit anak-anak Korea yang tak terkecuali Donghae.

Tanpa ia sadari segerombolan anak-anak (mungkin usianya lebih tua dari Donghae) menghalangi jalannya. Anak-anak itu membuat barisan menutupi akses jalan Donghae. Dengan tampang yang (sedikit) menakutkan, salah satu dari mereka menghampiri Donghae.

“Berikan makanan itu pada kami !!!” ,perintah salah satu anak berbadan besar itu.
Perasaan agak takut menghinggapi Donghae, “Tidak mau, ini milikku” , jawab Donghae

“Cepat berikan bocah”, timpal anak yang lain.
Donghae memandangi makanannya itu sebentar, ia ragu apakah harus makanan ini diberikan pada gerombolan anak-anak ini atau tidak. Hei, ayolah Donghae ini hanya sebuah makanan, apa kau ingin habis babak belur hanya karena makanan ini?

Namun ia bertekad makanan ini harus dipertahankan, ia sudah menabung lebih dari hasil uang jajanannya selama ini hanya untuk membeli makanan favoritnya ini. Asal kalian tahu saja, ibunya selalu memberi bekal untuk dimakannya disekolah dan uang jajan harus ia terima hanya setiap minggu.

Anak berbadan besar itu mulai kehilangan kesabaran karena Donghae tak kunjung memberikan makanannya pada mereka.

“Heiiii kalian”, teriak salah seorang dari arah belakang gerombolan anak-anak itu, sehingga wajahnya tak terlihat yang ada hanya sebuah teriakan saja yang terdengar.
Baru saja anak berbadan besar itu ingin merebut makanan ditangan Donghae, namun terhenti oleh suara seorang gadis kecil.

“Yoona ??”, gadis kecil itu menghampiri sahabatnya (Donghae). Ia ingin membeli sahabat yang sedang ditindas, sebut saja seperti itu.

“Hey gadis kecil kau tidak usah ikut-ikutan”

“Jangan meremehkan ku, meskipun aku masih anak kecil, tapi aku tidak takut dengan kalian”,
Yoona memang terlihat sangat berani saat melawan segerombolan anak-anak itu namun ia juga masih anak kecil yang tentu saja memiliki ketakutan bila dihadapkan pada situasi seperti ini. Namun Yoona tak habis kehilangan akal, ia memikirkan cara bagaimana untuk kabur dari para gerombolan anak laki-laki ini.

Sampai saat idenya muncul, ia membisikkan sesuatu kedekat telinga Donghae agar para sang gerombolan itu tak mendengar sepatah kata pun. Alhasil anak-anak itu pun dibuat bingung, mereka terdiam menunggu aksi apa yang akan dilancarkan oleh Yoona & Donghae. Yoona maju selangkah seakan menantang mereka.

“Kau berani melawan kami ya ?!!”, anak laki-laki berbadan besar itu menunjuk tepat kearah wajah manis Yoona.
Yoona menatap jari telunjuk yang diarahkan kewajahnya, sampai akhirnya jari telunjuk sang anak itu pun sukses masuk kedalam mulut Yoona. Tahukah kalian, Yoona menarik telunjuk anak itu kemudian ia menggigitnya sampai membekas.
Anak itu meringis kesakitan akibat ulah Yoona, Donghae yang melihat aksi Yoona-pun tak dapat percaya bahwa gadis kecil ini berani melakukan aksi berani seperti itu. Lalu, Yoona mundur mensejajari dirinya disamping Donghae, kemudian ia berbisik (lagi), “Oppa ayo mulai”

“Hana…Dul…”, Terlihat mereka (Yoona & Donghae) mengambil sebuah ancang-ancang, entah apa yang akan mereka lakukan, mungkin saja mereka ingin menghajar para gerombolan anak-anak itu atau mungkin …..

“Lariiiiiiiii..”, teriak keduanya melarikan diri dari para gerombolan anak-anak itu. Tak ayal peristiwa kejar-kejaran pun terjadi. Meskipun keduanya masih tergolong bocah, namun keduanya memiliki kemampuan yang hebat dalam berlari. Jika sudah besar mungkin mereka bisa menjadi seorang pelari yang handal.

Jalanan yang sepi tak menyulitkan ‘pelarian’ mereka sampai saat keduanya menemui persimpangan jalan mereka memutuskan untuk bersembunyi disalah satu tembok rumah besar disebelah kiri jalan. Namun para gerombolan anak-anak itu tak menyadari jika keduanya tengah bersembunyi disamping tembok, sehingga para anak-anak itu terus berlari lurus.

“Apakah mereka sudah tidak mengejar kita lagi ?”, tanya Donghae. Kedua bocah itu mengintip serta memastikan bahwa para gerombolan anak-anak tadi sudah pergi.

“Sepertinya mereka tidak melihat kita tadi”, jawab Yoona memastikan bahwa keduanya telah berhasil melarikan diri.
Yoona & Donghae pun bernafas lega, namun nafas mereka masih harus dinetralkan mengingat mereka berlari cukup kencang. Satu hal yang perlu kalian ketahui, sepertinya mereka (Yoona & Donghae) terlihat pandai dalam melarikan diri dalam masalah?

“Terima kasih ya Yoona, tadi kau sudah menolongku. Huuuh untung saja makanan ini selamat”, dengan senyuman yang mengembang Donghae masih terus setia memegang makanan yang tadi diperebutkan. Kenapa disaat seperti itu Donghae masih saja memikirkan makanannya. Dasar anak kecil.

“Tidak usah sungkan itulah gunanya sahabat, membantu disaat sedang membutuhkan”, ucap Yoona, meskipun umurnya yang baru sekitar 7 tahun tapi perkataannya terdengar dewasa.

“Yoona kau tadi berani sekali menggigit anak laki-laki yang besar itu?”, Donghae kini bertanya.
Yoona dengan percaya dirinya menjawab, “Itulah aku, aku ini seorang Yoona yang kuat serta pemberani, tak akan ada penjahat yang bisa melawanku”, ucapnya dengan sedikit seringaian khas anak kecil.

***

Langit pagi menampilkan kemilau indahnya mentari pagi, sejuknya sang surya pagi serta embun yang seolah siap menyambut pagi.

“Ayolah ajari aku”

“Kau itu sudah bukan anak kecil lagi, mengapa hal seperti ini saja kau tidak bisa, Yoona-ya kau sungguh payah”, cibir sang sahabat-Donghae-

Yoona hanya mendecak kesal, benar apa yang dikatakan sahabatnya barusan, dirinya payah dalam hal menaiki sepeda. Bukankah hampir setiap anak-anak dapat mengendarai sepeda, tapi Yoona?

Sebenarnya ia pernah belajar naik sepeda, tapi itu sudah sangat lama saat ia masih kecil, sepeda yang digunakan kala itupun sepeda roda tiga. Apakah disaat ini ia juga harus menaiki sepeda roda tiga, itu sungguh sangat memalukan bukan.

Siapa yang harus ia mintai bantuan untuk mengajarinya naik sepeda, ibunya ? bahkan ibunya sendiri yang mengatakan kalau Yoona harus belajar sendiri mengendarai sepeda itu, kakaknya ? ia lebih senang bermain dengan teman-temannya dibandingkan mengajari adiknya, ayahnya ? jangan ditanya karena ia sedang sibuk dikantor.

Yoona menundukkan kepalanya sejenak, ia memasang wajahnya sesedih mungkin.
Donghae yang melihatnya pun tak tega, “Baiklah aku akan mengajari mu”.

Sebelum menatap sahabatnya itu Yoona tersenyum sejenak, aktingnya berhasil. Mengelabui Donghae untuk mau mengajarinya naik sepeda. Setelah itu Yoona pun tampak sangat bersemangat menyambut ‘pelajaran’ mengendarai sepeda kali ini.

Yoona tak pernah letih mengayuh sepedanya meskipun matahari kini kian meninggi posisinya. Ia kayuh pedal sepeda itu pelan, menjaga keseimbangan agar dirinya tak terjatuh, Donghae-pun dengan sabarnya menuntun dari arah belakang sepeda Yoona. Sampai pada akhirnya Donghae melepaskan dorongan sepeda Yoona dan sepeda itu malaju membelah jalan yang tampak sepi.

Kini Yoona mengumbar senyuman tatkala ia berhasil mengayuh sepedanya sendiri, meskipun ia masih kurang dapat menyeimbangkan posisinya, terkadang tangan yang digunakannya untuk mengendalikan arah laju sepeda itu masih terlihat kurang seimbang.

“Oppa~~~lihatlah aku bisa mengendarainya kan?”

Sungguh lelah menurut Donghae mengajari gadis itu –Yoona- sampai akhirnya ia bisa mengayuh sepedanya sendiri.

“Hati-hatilah, kau itu belum mahir jadi jangan cepat-cepat mengayuhnya”

Yoona terlalu bersemangat, ia merasa sangat senang, bahkan himbauan Donghae pun tak ia dengarkan.Yoona lalu menghentinkan sepedanya sejenak dihadapan Donghae, “Oppa, tangkap aku kalau bisa”, dengan sedikit meremehkan Yoona menjulurkan lidahnya mengejek Donghae lalu ia berlalu dengan sepedanya. Ia kayuh lagi sepeda itu.

Donghae pun sedikit kesal melihatnya, sedetik kemudian ia mengambil ‘langkah seribu’ kemudian mengejar Yoona. Kecepatan mereka hampir tak seimbang, Yoona yang melaju dengan sepedanya dan Donghae melaju dengan langkah kakinya.

Donghae terus mengejar, Yoona menengokkan kepalanya kearah belakang lalu ia tersenyum melihat Donghae yang sudah tersengal nafasnya karena mengejar dirinya. Yoona merasa senang bisa mengerjai sahabatnya itu, namun karena terlalu menikmati tak sadar bahwa jalanan yang dilalui sepedanya iu sedikit menurun dengan sedikit hiasan bebatuan kecil.

Seperti yang sebelumnya dikatakan Donghae bahwa Yoona belum begitu mahir mengendarai sepeda, Yoona nampak sulit untuk mengendalikan sepedanya disebuah jalanan yang menurun. Alhasil sepeda itu pun sukses meluncur dengan sendirinya akibat sang pengendara –Yoona- terlambat melakukan pengereman pada sepedanya.Yoona hanya berteriak sampai pada akhirnya sepeda itu berhenti tepat mengenai semak yang ada sekitar pinggiran jalanan.

Tampak dari kejauhan Donghae melihat kejadian itu menahan tawanya, Donghae kau memang sahabat kurang ajar, mentertawai sahabat mu sendiri yang sedang mengalami ‘kesialan’, namun dalam lubuk hatinya bukan maksud ia untuk mentertawai penderitaan sahabatnya itu.

Donghae sudah memprediksi kejadian ini akan terjadi, ”Sudah kubilang untuk berhati-hati, kenapa ia tak mendengar perkataan ku tadi”. Donghae pun menghampiri Yoona yang sudah terjatuh dari sepedanya.

“Kau baik-baik saja?”, Donghae kini membantu Yoona.

Yoona hanya meringis kesakitan, akibat aksinya barusan tubuh gadis itu kini sudah terhiasi goresan luka pada siku serta lutunya.”Oppa, lihat ini lututku berdarah”, adu Yoona memperlihatkan lututnya yang sedikit mngeluarkan darah kepada Donghae.

“Sudahlah hanya sedikit luka, nanti juga akan sembuh, sudah jangan menangis lagi”, Donghae sedikit menghibur Yoona yang sedang meringis.

Namun gadis itu tetap tak kunjung menghentikan tangisannya, “Tapi ini sangat perih~~~”, air matanya tak kunjung berhenti keluar dari mata indah gadis itu.

“Sudah, ayo kita bersihkan lukamu”, Donghae membantu Yoona berdiri, dengan lututnya yang berdarah membuat Yoona sedikit terpincang. Kemudian mereka berlalu menuju sebuah taman kecil. Hijaunya pepohonan, sejuknya angin yang menerpa serta kicauan para burung seolah menyambut kedatangan sahabat itu disebuah taman kecil yang nampak begitu asri.

“Jika luka ini tidak segera dibersihkan nanti lutumu akan infeksi”, Donghae terus membersihkan lutut Yoona dengan air yang terus keluar dari kran air ditaman itu. Yoona hanya memejamkan mata menahan rasa perih. Donghae membersihkan luka itu dengan hati-hati, bahkan saat ini Donghae terlihat seperti kakak bagi Yoona yang dengan setianya menjaga gadis itu. Meskipun lukanya yang sudah dibersihkan namun Yoona masih terus terisak.

Donghae yang bingung bagaimana ia menghentikan tangisan sahabatnya ini, ia memikirkan cara itu.

“Aku belikan kau ice cream, mau tidak?”, tawar Donghae, cara itu ia gunakan agar gadis ini berhenti menangis, apa itu akan berhasil.

“Tapi kau harus berhenti menangis”,

Yoona yang mendengar penawaran Donghae merasa sedikit tertarik, ia juga sebenarnya haus jika erus-terusan menangis. Kemudian ia menganggukkan kepalanya seraya setuju dengan penawaran Donghae.

“Anak pintar, ayo kita beli ice cream-nya”, Donghae mengelus puncak kepala gadis itu.

Donghae menemukan cara baru agar ia bisa menghentikan gadis ini, disaat Yoona sedang menangis belikan ia ice cream dan dengan sendirinya ia akan menghentikkan tangisannya dan sibuk dengan ice cream-nya.

Langit cerah menampilkan kumpulan awan-awan putih seperti kapas yang bertebaran dilangit biru cerah. Matahari masih dengan setianya bertengger menyinari bumi. Jalanan nampak begitu ramai oleh berbagai macam aktivitasnya, beberapa toko berjejer rapi dipinggiran jalan.

Donghae dan Yoona kini sedang menuju sebuah kedai ice cream, kaki Yoona kini sudah sedikit membaik dan Donghae yang terus menuntun sepeda yang sebelumnya tadi menjadi sebuah ‘tersangka’ insiden terjatuhnya Yoona.

Dikedai ice cream iu mereka memilih berbagai macam rasa ice cream yang ditawarkan, Yoona yang terlihat sangat bersemangat bahkan ia memilih 3 ice cream sekaligus dengan rasa yang berbeda, sedangkan Donghae lebih memilih rasa ice cream coklat.

Sebelum mereka beranjak meninggalkan kedai itu, Donghae melihat sebuah box besar dengan tempelan berbagai macam ekspresi wajah orang menghiasi box dengan warna dasar hijau itu. Kemudian ia mengajak Yoona kesebuah box itu.

“Ayo, sebelum kita pulang kita berfoto dulu”, ajak Donghae dengan menarik tangan Yoona masuk kedalam sebuah box foto.

Yoona hanya menurut saja ajakan Donghae, didalam box itu mereka memilih tampilan yang menarik untuk dijadikan design foto mereka. Setelah dirasanya pas, mereka mulai melakukan pose-pose unik. Lensa kamera pada box itu berhasil menangkap berbagai macam gaya yang mereka lakukan.

Satu buah lembar foto dengan empat pose gaya yang berbeda keluar dari bagian bawah box itu. Keduanya nampak puas dengan hasil foto yang telah mereka lakukan tadi. Setelahnya mereka beranjak meninggalkan kedai itu yang tak lupa membawa ice cream yang sebelumnya telah mereka beli.

Perjalanan menyenangkan hari ini ditutup oleh keduanya dengan menghabiskan ice cream. Siang terik kala itu perlahan tergantikan oleh jingga sang mentari sore.

***

Bumi yang terus berputar mengantarkan setiap insan pada kehidupan yang terus berjalan, tahun berlalu begitu cepat. Bocah dan gadis kecil itu kini kian beranjak remaja, menaiki satu level kehidupan, menyambut masa depan serta menapaki kehidupan yang membentang luas.

The Story: Flashback
Entah sudah berapa kali bumi terus berotasi pada porosnya, entah berapa kali pula siang dan malam silih berganti, yang ia tahu kini dirinya bukan lagi seorang gadis kecil. Tahun berlalu begitu cepatnya, menyisakan sejuta kenangan indah yang seakan melekat didalam memorinya.

Suasana gelap seolah menyapa malam kala itu, sang pemilik baru saja memasuki ruangan yang sepi tak berpenghuni. Setelah menekan beberapa kode pada kotak intercom, ia buka pintu dengan perlahan lalu berhenti sejenak untuk mengganti sepatu tingginya yang telah membuat kaki jenjangnya sedikit pegal itu dengan sendal sederhana.

Ia kemudian menuju sebuah kamar dan segera menyalakan lampu, suasana gelap hilang tergantikan oleh cahaya lampu, tas burberry yang masih menggelantung dibahunya ia segera ia letakkan disebuah meja. Sedetik kemudian sebuah objek kini menarik perhatiannya, bingkai kayu yang menghiasi sebuah foto yang terlihat sedikit usang.

‘Aku merindukan mu’,bibir itu tak mengeluarkan sepatah katapun bahkan suarapun tak terdengar namun hatinya lah yang berbicara. Ia terlarut dalam kenangannya kala itu. Otaknya seolah memerintahkannya untuk mengulang masa lalu. Yoona menggenggam bingkai foto itu, sisa malam itu ia habiskan mengulang memorinya dimasa kecil.

The Story: Flashback

Terjebak pada sebuah kenangan yang terus menggerogoti hatinya yang kini kian rapuh, membuatnya sulit melupakan masa lalunya.

Masa lalu tak akan pernah terhapuskan sekalipun kau mencobanya sangat keras, ia akan tetap menjadi bagian dari apa yang dinamakan kehidupan, indah atau buruk sekalipun hal itu akan menjadi bagian hidup kita.
Seiring waktu yang berlalu, masa lalu sejatinya akan tergantikan oleh sebuah masa depan. Jadikanlah masa lalu mu sebagai pengalaman hidup yang berharga untuk menapaki jalan kehidupan dimasa depan.

-The End-

*Bagaimana? Maaf ya kalau ceritanya sedikit membosankan. Saya membuatnya semaksimal mungkin dan inilah hasilnya yang bisa saya kerjakan  Dicerita ini menceritakan kilas balik kisah kecil mereka, dan ini juga ada sangkut pautnya dengan cerita sebelumnya. Jika kalian meneliti pasti tahu apa jawabannya ^^
Baiklah sekian cerita kali ini sampai jumpa >_<*

Advertisements

17 thoughts on “The Story: Flashback

  1. ‘jadikanlah masa lalumu sbg pengalaman hidup yg berharga utk menapaki jln kehidupan di masa depan’ kata2nya keren…

    Thor sequellnya dg ditggu… Kamsa 🙂

  2. trus skrang dobghaeny kmna?msih ad sequel lg y??
    kta2ny bgus..
    kenngan2 yg mncul bgaikan membuka memori lama..
    tentg aku,dia dan kita..
    next donk^^

  3. Pingback: The Story: Forgotten [TEASER] | Deer Fishy & Magnae Couple

  4. Pingback: The Story: Forgotten | Deer Fishy & Magnae Couple

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: