The Story: Hate


Title : The Story: Hate

Cast : Lee Donghae
            Im YoonA

Other Cast :Cho Kyuhyun
               Seo Joohyun

Genre : Romance, Friendship, Sad

Length : One-Shoot

Disclamair : This is the 3rd  story, I hope you enjoy with this story.

image

©yoonhaeseokyu
*****************************************************************************
Previous
The Story: Late
The Story: Flashback
—–
-START-

Bagaikan hamparan bunga dilautan taman hijau, memberikan warna warni nan indah rupawan. Begitu pula dengan persahabatan itu terjalin, banyak warna yang mereka ciptakan bersama. Kebersamaan, kehangatan serta ketulusan selalu mereka ukir dalam kata persahabatan.

Andaikan waktu yang tak pernah berputar, dan andaikan dahulu ketika mereka tak bertemu mungkin keadaan tak seperti sekarang ini. Namun nyatanya keadaan lah yang membuatnya seperti ini. Hari-hari yang mereka lalui bersama faktanya membuat perasaan itu muncul. Antara pria dan wanita, adakah persahabatan itu murni adanya ?

Sebuah surat yang masih tergeletak manis di atas meja menuntut untuk sang penerima surat agar segera membacanya. Gadis itu –Yoona- menatap nanar kertas berwarna putih gading itu. Perlahan ia membuka surat itu dan segera membacanya dengan hati yang terus bergetar.

‘Yoongie-ah, mianhae…
Apa saat ini kau sedang membenciku,ah tentu saja kau sangat membenciku bukan
Mianhae… aku pergi dengan tiba-tiba seperti ini,
Mianhae aku yang telah mengingkari janji kecil kita,
Aku tak bisa lagi menjagamu dan selalu berada disampingmu seperti dulu,
Dan…
Aku tak tahu apakah perasaanku terhadapmu ini salah atau tidak,
Namun satu hal yang dapat kupastikan saat ini,
Maafkan… aku mencintaimu,
Aku sangat-sangat mencintaimu, lebih dari apapun yang kau tahu,
Kau boleh membenciku, tapi ku mohon jangan kau benci juga cintaku terhadapmu,
Aku memang bodoh, bagaimana bisa perasaan ini muncul,
Mianhae…Jeongmal Mianhae’
‘Sahabatmu yang bodoh’
-Donghae-

Hanya sepucuk surat yang Donghae tinggalkan sebelum akhirnya ia menghilang bagaikan ‘ditelan bum’. Menghilang dengan meninggalkan segudang tanda tanya besar didalam benak Yoona. Kemana perginya lelaki itu kini? Bertanya pada dunia mungkin ia akan mendapatkan jawabannya.

Perasaan Yoona kini semakin berkecamuk, bagaimana bisa sahabatnya ini bisa memiliki perasaan seperti ini. ‘Kau tidak perlu meminta maaf, karena aku juga seorang yang bodoh yang ternyata juga memiliki perasaan yang sama sepertimu, aku…juga mencintaimu’. Kini perasaan Yoona sudah tak dapat lagi dibohongi, perasaan yang diam-diam ia pendam akhirnya dapat terucap meskipun hanya dia dan Tuhan yang dapat mendengarnya.

Hujan turun membasahi kota Seoul, seakan ikut menemani air yang turun bersamaan dari pelupuk mata Yoona. Isak tangis gadis itu terbiaskan oleh suara hujan yang mengalir deras diluar sana. Langit saat ini pun seolah tahu bagaimana perasaan Yoona, kelam dan siap menurunkan lagi air yang akan mengalir jatuh membasahi.

Memendam perasaan sendirian bukanlah perkara mudah, menutupi semuanya seorang diri. Bagaimana bisa keduanya bisa memiliki suatu perasaan yang sama namun tak dapat mereka ungkapan karena sebuah alasan –persahabatan- yang mereka pendam selama ini. Konyol sekali, mengabaikan perasaan cinta, dan kini keduanya sudah terjebak dalam lingkaran penyesalan.

Hatinya begitu kosong terasa hampa, entah seperti ada yang hilang dalam dirinya.  Meskipun senyumnya terus melekat dan menghiasi wajah cantiknya namun tak jarang senyuman itu berubah menjadi derai air mata yang terus mengalir.
Ingin rasanya gadis itu melupakan semua kenangan yang ada bersama lelaki itu. Kenangan itu telah terpahat dengan jelas didalam hatinya, percuma saja ia mencoba dengan sekeras apapun untuk menghilangkan bayangannya. Sosok lelaki itu terus menggelayuti hati dan pikirannya.

Berapa kali ia mencoba bangkit dari situasi kelam ini namun sulit rasanya, ia sudah terbiasa dengan Donghae yang selalu berada disisinya. Namun keterbiasaan itu (harus) berubah karena tak ada lagi sosok lelaki yang bisa selalu menemaninya. Donghae telah hilang dari pandangan matanya, menghilang bagaikan debu yang tertiup angin.

“Apakah tidak ada kabar dari Donghae oppa ?” Tanya Seohyun pada Kyuhyun, ia paham betul selain Yoona, Kyuhyun-lah salah satu sahabat terbaik pria itu, pria yang telah membuat Yoona hidup dalam keterpurukan semenjak kepergiannya.

Kyuhyun hanya menjawab dengan gelengan kepala, ia juga kecewa terhadap sahabatnya itu, pergi bagaikan angin lalu tanpa meninggalkan jejak.

Seohyun menghela nafas, kecewa dengan jawaban yang Kyuhyun berikan. “Aku tidak tega melihat Yoona yang seperti ini, dia seperti kehilangan semangatnya”, ucap Seohyun.

“Aku juga tak mengerti kenapa Donghae pergi begitu saja. Apa dia ingin lari dari masalah ini”,Kyuhyun membalas pernyataan Seohyun.

“Mungkin Donghae oppa mempunyai suatu alasan kenapa ia pergi meninggalkan Yoona” Seohyun mencoba untuk memberikan jawaban dengan bijak. Seohyun mungkin sedikit paham, barangkali ada suatu alasan dibalik perginya Donghae, meskipun ia tak tahu secara pasti.

Kyuhyun melihat Seohyun dengan secercah senyuman yang mengembang diwajahnya. Ia sangat kagum pada gadis ini, Seohyun cukup bijak dalam memandang suatu permasalahan. Baginya Seohyun adalah seorang gadis yang dewasa dalam menghadapi sebuah masalah.

“Yoona sangat beruntung memiliki sahabat seperti mu” Kyuhyun memberikan sebuah pujian kepada Seohyun. Sang pemuji itu tertarik kepada Seohyun. Sudah cukup lama mungkin Kyuhyun mengagumi Seohyun, namun hal itu tak pernah ia tunjukkan kepada gadis ini.

Jadi, apa bedanya Kyuhyun dengan Donghae ? Keduanya bahkan sama-sama memendam rasa kepada seorang gadis yang nyatanya mereka sukai ? Tapi, mungkin Kyuhyun mempunyai perbedaan yang akan ia tunjukkan nantinya. Entahlah, semuanya akan terlihat seiring berjalannya waktu bukan ?

Kini Kyuhyun memandang Seohyun dengan sedikit gugup, ia ingin bertanya pada gadis dihadapannya ini namun –mungkin- ia sedikit ragu.

“Seohyun-ah, mmm apakah kau ada acara minggu ini ?”

“Eh? Sepertinya tidak ada, memangnya ada apa ?” Kali ini Seohyun yang mencoba untuk bertanya.

Kyuhyun sedikit berlega karena Seohyun menjawab sesuai harapannya. Kemudian ia menanyakan kembali dan ia berharap ia mendengar jawaban yang baik lagi.

“Aku mempunyai dua tiket pertunjukkan musical, jika kau tidak keberatan maukah kau datang bersamaku ?”

Seohyun sedikit memberikan senyuman kecil sebelum ia menjawabnya, “Apakah oppa sedang mengajakku berkencan ?”

Kyuhyun yang mendengar hal itu sedikit terkejut, ternyata Seohyun menyadari dengan cepat maksud dari ajakan Kyuhyun. Tapi, hal ini justru membuat keduanya senang. 

“Baiklah, aku akan menemani oppa,tapi dengan satu syarat. Oppa tidak boleh telat menjemputku” Seohyun mengatakan apa yang Kyuhyun harapakan. Tak disangka jika Seohyun juga menaruh rasa ketertarikan pada lelaki ini.

Keduanya saling melempar senyum, memberikan senyum terbaik yang dapat mereka lakukan. Kencan pertama mereka diminggu ini, rasa bahagia menyelimuti ruang hati keduanya. Meskipun baru langkah awal, namun tak dapat dipungkiri hal ini akan menjadi suatu hal baru mulainya kehidupan cinta mereka diwaktu yang akan datang.

Namun sayangnya kebahagian mereka tak dapat dirasakan oleh sahabat keduanya –Yoona & Donghae- yang justru awan mendung kegelapan sedang menghampiri keduanya. Mungkin suatu hari nanti kedua orang itu akan menemukan kebahagiannya.

-The Story-

Place de la Concorde, France
Monumen serta air mancur yang menghiasi kota ini seakan menyihir penglihatan siapapun yang melihatnya. Area taman dengan luas sekitar 86.400 meter ini didirikan pada tahun 1755.  Pemandangan menakjubkan disuguhkan untuk memanjakan siapapun yang ingin menikmatinya.

Daun kering kecoklatan berserakan disepanjang jalan, tak jarang dedaunan itu terlepas dari dahannya dan segera meluncur bebas menuju daratan. Matahari yang bersinar ditemani dengan hembusan udara yang menyejukkan menandakan peralihan musim dingin menuju musim gugur.

Tak ada yang dapat menjelaskan apa alasan pria itu meninggalkan tanah kelahirannya –Korea-  menuju kota dengan segala nuansa keromantisannya itu secara tiba-tiba, sampai laki-laki itu sendiri yang dapat menjelaskan semua teka-teki kepergiannya.

Kedua kakinya terus melangkah menyusuri setapak demi setapak jalan, gedung dengan ukiran khasnya menemani disepanjang perjalanan. Sesekali ia potret bangunan dengan kamera yang ia bawa, mengabadikan setiap objek yang ditangkap oleh kedua matanya dan menyalurkannya pada lensa kamera.

Disinilah ‘pelarian’ itu berada, dengan segala rekam jejak perasaan ia bawa kesebuah kota dengan segala nuansa cinta yang ada, namun untuk lelaki itu cinta itu kini seolah terhempas oleh angin yang terus bergerak pelan mengalun diudara. 4 tahun berada dikota ini semakin menguatkan perasaan yang ia rasakan kala ia meninggalkan gadis itu.

Dirinya begitu merindukan gadis –Yoona- itu, tapi apakah ia juga sama merindukannya dengan dirinya. Tiada hari tanpa memikirkan Yoona dalam benak Donghae, bagaimana keadaannya saat ini, apakah ia baik-baik saja disana, apakah ada seseorang yang menjaga serta melindunginya. Mengingat bahwa sesungguhnya ialah penjaga Yoona disana.

Setelah dirasanya ia puas mengelilingi jalan setapak dikota dengan segala suasana keromantisan yang tercipta ia kemudikan setir mobilnya dan membelah jalanan sepi kembali menuju rumah singgahnya selama berada di Paris. Udara yang menyejukkan hatinya, namun tetap saja hatinya tak pernah merasa tenang.

“Donghae-ya, apa kau tidak ada niatan untuk kembali ke Seoul ?”, ucap seseorang ditengah makan malamnya dimana hanya ada Dia dan Donghae.

“Mungkin minggu depan aku akan kembali, appa sudah memintaku untuk mengurusi perusahaannya di sana”

“Pasti aku akan sangat merindukanmu Donghae-ya”, ucapnya seakan tak rela jika Donghae pergi meninggalkannya. Wanita itu memasang ekspresi wajah kecewa mengetahui Donghae yang tak lama lagi akan kembali ke Seoul.

“Jika kau pergi, aku akan kembali kesepian” Ucap wanita itu lagi. Donghae hanya bisa tersenyum mendengar penuturannya.

“Tenang saja haelmoni, aku pasti akan kembali lagi kesini”, Donghae mencoba untuk meyakinkan.

“Berjanjilah kau akan kembali kesini secepatnya, dan sering-sering lah kau kesini”

“Kau tidak usah takut, aku pasti akan mengunjungi mu haelmoni”, dengan senyumannya yang dapat menggetarkan siapapun yang melihatnya ia tunjukkan kepada wanita renta itu.

Tepat seminggu setelah percakapan itu Donghae benar-benar melakukan perjalanannya kembali ke Seoul. Kembali kesebuah kota dengan sejuta kenangan yang telah ia tinggalkan sebelumnya.. Entah perasaan apa yang terus menggelayuti hatinya, kini ia tampak merasa kalut. 

Apakah gadis itu merindukan kehadirannya, namun satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah justru ia yang sangat merindukkan gadis itu. Sahabatnya –Yoona-  yang telah ia tinggalkan selama beberapa tahun, bagaimana kabarnya saat ini. Dalam hatinya Donghae terus bertanya apakah Yoona membenci dirinya yang telah pergi dengan tiba-tiba ataukah Yoona akan membalas perasaannya.

Semuanya masih sepeti teka-teki yang harus ia selesaikan untuk mengetahui jawaban sebenarnya, maka dari itu ia harus kembali ke negara itu.

***

Pesawat itu masih mengudara dilangit seakan membelah angkasa dengan sang pilot yang masih setia mengemudikan ‘burung besi’ itu. Awan putih yang melayang dilangit serta potret bumi yang seolah mengecil menjadi saksi perjalanan udara kala itu.

Perlahan namun dengan pasti pesawat itu makin lama mulai menurun ketinggiannya, mendarat dengan pasti pada landasan. Para penumpang pun mulai keluar dari badan pesawat, hilir mudik menandakan kesibukan yang tengah terjadi disebuah bandara tersibuk didunia itu.

Kini ia telah kembali, menjejakkan kakinya disebuah kota yang telah melukiskan lukisan indah di sebuah kanvas kehidupan yang telah dihiasi oleh berbagai macam warna, namun lukisan itu kini berubah warna menjadi gelap kelam selama 4 tahun belakangan ini.

Lukisan itu Donghae tinggalkan begitu saja karena kepergiannya. Tapi Donghae bertekad ingin kembali menggoreskan lukisan kelam itu menjadi sebuah lukisan yang lebih indah, jauh lebih indah dari sebelumnya. 

Baginya waktu berlalu dengan sangat lamban, 1.825 hari ia habiskan tanpa seseorang yang telah membuat hatinya kini menjadi beku seperti deretan gunung es. Entah kapan deretan gunung es itu akan mencair. Hati yang dulunya hangat kini telah berubah, dan senyuman itu kini jarang ia tampilkan.

Separuh waktunya ia habiskan untuk menyibukkan diri, ia berpikir dengan seperti ini dapat melupakan segala masalah yang menerpanya. Bekerja disebuah cafe ia lakukan untuk membunuh waktu yang seakan terus mengejarnya.

Kini pelanggan mulai semakin berkurang, satu persatu para pengunjung menuju pintu keluar dan meninggalkan cafe. Kemudian ia bersihkan meja yang sebelumnya telah ditinggalkan oleh pengunjung. Tangan mungilnya memegang sebuah kain lap dan terus melakukan gerakan memutar disebuah meja yang nampak tidak terlalu besar. Setelah dirasanya meja itu bersih, gadis itu kembali ke dalam pantry.

Bunyi lonceng pintu menandakan datangnya pengunjung, seorang pria memasuki cafe itu dan segera mencari posisi tempat yang dirasanya pas, ia pilih tempat dekat dengan jendela yang langsung dihadapkan oleh jalanan kota Seoul, ia terlarut dengan suasana seperti ini. Memori indah bergelayut dipikiran sang pria itu.

“Yoona tolong kau layani pengunjung itu ya, tiba-tiba perutku sakit”, ucap salah seorang pelayan yang meminta Yoona untuk melayani pria tersebut.

Gadis itu berjalan dengan tatapan fokus pada sebuah buku catatan ditangannya sesekali ia tuliskan yang entah apa ia tulis pada buku kecil itu. Sesampainya dimeja pengunjung, Yoona baru menoleh kearah pria ini, “Selamat siang tuan, kau ingin pesan apa ?”, tanya Yoona.

Donghae beralih, semula pandangannya tertap pada jendela cafe namun mendengar seorang pelayan yang bertanya kemudian ia tolehkan untuk melihat sang pelayan –Yoona- “Aku pesan segelas …”, belum selesai Donghae mengucapkan pesanannya ia dikejutkan dengan sajian yang dihadapkannya saat ini. Ia diam terpaku.

Detik, menit, jam bahkan rotasi bumi siang itu seolah berhenti manakala kedua manik mata mereka saling bertatapan. ”Kau?”, Yoona menjatuhkan buku kecil yang ia pegang, begitu terkejut dirinya  dengan kehadiran Donghae dihadapannya yang secara tiba-tiba. 

Sesegara Yoona memungut kembali buku yang sempat terjatuh itu kemudian ia berlari kecil kembali menuju pantry, “Kau saja yang layani pelanggan itu!”, ucap Yoona serta memberikan buku kecil itu pada temannya.

Jung In, teman sekaligus pelayan itu tampak bingung kenapa Yoona kembali menuju pantry dengan raut wajah yang masam, “Dia itu kenapa?”, Jung In bertanya pada dirinya sendiri kemudian keluar dan menuju meja yang ditempati oleh Donghae. Ia tak mau pelanggannya menunggu terlalu lama, apalagi Donghae tadi belum sempat selesai memesan.

“Maaf tuan, kau pesan apa?”, Jung In kini bertanya, sama seperti yang tadi Yoona lakukan.

Donghae belum menjawab, ia masih memandang kearah pintu pantry berharap Yoona akan keluar dan menghampirinya. “Gadis tadi, yang baru saja masuk kepintu itu dia…”

Jung in yang mengetahui siapa yang dimaksud oleh Donghae sekilas melihat kearah pintu, “Aaah, dia Im Yoona, apa kau mengenal gadis itu tuan?”

Donghae tersadar dari keterkejutannya, ia normalkan kembali perasannya namun gagal. Ia sadar apa yang membuat Yoona berlari menghindari dirinya. Untung saja pelayan ini –JungIn- dapat membuyarkan konsentrasi Donghae, jika tidak mungkin Donghae akan terus menerus menatap arah kepergian Yoona.

Sesaat setelah itu Jung in kembali kedalam pantry dengan membawa menu pesanan Donghae. Kertas itu diberikan kepada koki untuk di ‘sulap’ menjadi sebuah makanan yang akan disajikan nantinya. Melihat gelagat Yoona yang aneh, Jung in menghampiri Yoona dan bertanya, “Apa kau mengenal pengunjung itu, kulihat tadi setelah kau masuk kedalam pantry ia menatap mu dengan sangat serius sekali ?”

Yoona terus melakukan aktivitasnya meskipun ia mendengar dengan jelas pertanyaan yang dilontakan Jung in, “Tidak, aku tidak mengenal lelaki itu”. Yoona menjawab dengan sedikit ketus.

“Sudah sana kau kerjakan saja tugasmu”, perintah Yoona kepada Jung in, sebenarnya ia takut jika Jung in nanti akan bertanya-tanya lagi.

“Baiklah”, Jung in menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan Yoona dan kembali pada aktivitasnya masing-masing.

Apa yang dimaksud Yoona sebenarnya, ia berkata tidak tahu mengenai lelaki itu ? Sungguh Yoona seorang pembohong yang hebat. Mati-matian ia memendam rasa rindu yang bergejolak dan sekarang ia mengatakan tidak tahu pada lelaki yang telah ia rindukan.

Malam kian larut, tak nampak lagi warna jingga matahari namun yang ada kini hanya gelapnya langit yang tengah bertabur bintang. Seperti warna langit saat ini, hati Yoona pun ikut kembali menjadi gelap setelah kedatangan Donghae yang seakan tiba-tiba membuat konsentrasinya hilang.

Dengan langkah gontainya Yoona memasuki apartemen yang ia huni bersama Seohyun. Ia buka kenop pintu serta mengganti sepatunya dengan sandal ruangan. Biasanya ia akan langsung menuju dapur dan menuangkan air untuk melepas dahaga, namun tidak untuk malam ini.

Hausnya tenggorokan yang terasa meskipun langit sudah semakin menggelapkan warnanya tetap tak ia hiraukan. Kakinya terus melangkah memasuki kamarnya,  tak nampak cahaya yang menyapanya kala memasuki ruangan bernuansa putih gading itu.

Seohyun yang melihat keadaan Yoona mencoba untuk mengajaknya makan malam, ia tahu bahwa sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja dan segera ia menuju kearah kamar Yoona. Dibukanya pintu putih itu secara perlahan, namun ruangan itu gelap dan hanya menampakkan sebuah sinar dari lampu jalan yang menerobos masuk melalui kaca jendela kamar itu. Seohyun melihat samar tubuh Yoona sedang meringkuk disamping kasur.

“Yoona, ada apa, kenapa kau menangis, apa yang terjadi ?”, Seohyun tampak begitu khawatir dengan keadaan Yoona, ia takut sesuatu telah terjadi pada sahabatnya.

“Dia kembali, dia telah kembali, kami bertemu”, dengan tatapan yang kosong, Yoona berujar memberitahu kepada Seohyun.

Seohyun tidak tahu siapa yang dimaksud telah kembali oleh Yoona, “Siapa ?”
Kini Yoona menatap Seohyun, untuk yang kesekian kali air mata itu kembali menggenangi pelupuk matanya, “Donghae, dia sudah kembali”, air mata itu seolah tak dapat tertahankan lagi. Entah sampai kapan air mata itu akan berhenti mengeluarkan air yang membuat hatinya teriris, ia terus mengeluarkan air matanya menumpahkan segala perasaan yang ia pendam selama 4 tahun ini.

Yoona berhenti, kemudian ia membalikkan tubuhnya yang terlihat tegar namun tidak pada hatinya yang kini telah rapuh, ia sekarang menghadap kearah Donghae. Ditatapnya pria itu, kini tatapan mata indah itu tak lagi teduh seperti sebelum-sebelumnya. Tatapan mata Yoona seolah mengisyaratkan kebencian, mungkin kata itulah yang saat ini tepat untuk perasaannya.
Hei, kenapa Yoona harus membenci Donghae. Bukankah mereka dahulunya adalah sahabat  kecil yang selalu bersama ? Ya, namun kata sahabat itu seolah perlahan mulai pudar seiring tumbuhnya perasaan yang berbeda dari keduanya. Semenjak kepergian lelaki ini kedua manusia ini mengalami perasaan yang semakin menguat. Kehilangan bukan sebagai sahabat, namun kehilangan seseorang yang hampir setiap waktu menemani. Bukankah perasaan cinta dapat tumbuh seiring berputarnya waktu, apakah perasaan cinta yang saat ini tengah mereka rasa ?

“Kenapa kau kembali ?” Yoona membuka percakapan itu.
Donghae masih digelayuti rasa bersalah pada sahabatnya ini, “Aku~~~”

“Kau tahu, kau pergi tiba-tiba sesuka mu, sekian lama tanpa sedikitpun memberitahu kabar, dan saat ini kau muncul secara tiba-tiba. Aku membenci mu, bolehkah aku membenci mu saat ini, aku~~~ sungguh sangat membencimu.” Yoona sedikit berteriak diakhir kalimat yang ia ucapkan kemudian pergi meninggalkan Donghae.

Apa yang salah, bukankah ini yang diinginkannya, lelaki itu telah kembali kehadapannya saat ini. Namun bukan senyuman manis yang terukir digaris wajah gadis itu. Seolah hatinya menolak kehadiran Donghae. Benci, mungkin hal ini yang saat ini dirasakan gadis itu.

Jauh dari lubuk hati gadis itu, jauh sebelum surat kepergian Donghae yang dibacanya malam itu, ia sesungguhnya telah memendam cinta yang ia simpan rapat tanpa seorang pun yang mengetahuinya. Cinta yang hanya akan ia berikan pada lelaki yang sekarang ia benci, ah apakah Yoona sanggup untuk membencinya.

Sama halnya saat Donghae mengungkapan keterpendaman hatinya disurat itu, Yoona pun begitu. Sayangnya mereka tak dapat jujur pada diri mereka jika bahwasanya mereka memiliki perasaan yang sama.

Apakah kehadiran Donghae saat ini dapat memperbaiki persahabatan mereka, atau justru sebaliknya. Entahlah, dua kemungkinan itu masih dapat terjadi. Hidup ini adalah pilihan, maka apa yang akan mereka pilih ? Tersedia dua pilihan yang dapat mereka pilih. Benci atau Cinta, Sengsara atau Bahagia,

-FIN-

The Story: Hate
Kesalahan dimasa lalu yang tak dapat diterima dimasa kini membuatnya merasakan kebencian yang seolah terus membeka duka lara.

Bukankah setiap manusia pernah melakukan suatu kesalahan, dan sekarang dapatkah kita menerima kesalahan dan memaafkan kesalahan tersebut serta menjadikanya sebagai pembalajaran hidup dan meraih kebahagian.

Sorry for late post, i have a problem with the story. So you can give me a solution for the story

-Annyeong ^^ akhirnya setelah sekian lama bisa juga publish cerita yang ketiga ini, maaf  ya kalau ceritanya semakin aneh. Hanya ini yang bisa aku persembahkan dan sudah berusaha semaksimal mungkin, saya kurang bisa buat konflik yang rumit. Jadi ya seperti inilah hasilnya-

DON’T BASH & DON’T COPY WITH MY PERMISSION !!!

Leave Your Comment

Advertisements

37 thoughts on “The Story: Hate

  1. Seru ^^
    Walaupun Aku Bukan SeoKyu Shipper (I’m KyuYoung Shipper) disini tapi mereka manis xD kayak semut gitu #dilemparmanggasamaseokyushipp #hehe, bercanda kok ._.V

    Sequel dong :3 #puppy eyes

  2. Sbnrnya YH sma” love cm pd malu y…aduch oppa q yg guanteng kok pemalu ntr yoongie di ambl org lo
    good luck author

  3. ffnya bagus, tp ini sadend kah berharap ada sequellnya…

    Dan pd akhirnya nanti Yoona dan Donghae memilih cinta dan bahagia utk hidup mrk berdua, sequel ne thor. Gomawo 🙂

  4. aigoo YH couple trlalu tkut untuk nytaian prsaan mreka gregetan jga lyat mreka brdua tp sbnernya aku rada’ bngung krna q blm bca crit sblmnya
    tp mnrutku ni kren ko’
    seokyu moment’y kurang hehehe
    sering”y tu dua kopel di jdiin stu dalam ff

  5. aq pkir dgn kpLangn donghae mrka kan b’satu tp t’nyta ngga…!? dtnhgu squel’y thor bkin yh b’satu…

  6. Pingback: The Story: Forgotten [TEASER] | Deer Fishy & Magnae Couple

  7. Pingback: The Story: Forgotten | Deer Fishy & Magnae Couple

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: