Kiss in Snow [Special Donghae’s Birthday]


Title      : Kiss in Snow
Cast      : Lee Donghae – Im YoonA
Author : yoonhaeseokyu
Genre : Romance
Length : One-Shoot
Disclaimer : Happy Birthday 29th Lee Donghae, this story special ia made for Donghae’s birthday. Enjoy it

***********************************************

image

***********************************************
Baru saja lampu-lampu disetiap sudut gedung-gedung  itu dinyalakan. Sinaran lampu itu menandakan bahwa sang malam kini sudah tiba.

“Diatas sana menurutmu mana yang lebih indah, bintang atau kah bulan ?”

Jari telunjuk ku menunjuk kearah langit berwarna hitam. Tapi tentu saja meskipun langit memang gelap namun cahaya satu bulan yang paling bersinar dan ribuan kilauan bintang yang menggantung diatas langit sana mampu  membuat langit itu nampak lebih indah.

“Tentu saja kau yang lebih indah”

“Aku kan bertanya bintang atau bulan, mengapa kau jawab aku ?”

“Karena kau lebih dari mereka, bagiku kau lebih indah dari apapun”

“Wah, sepertinya kau semakin ahli saja untuk merayu”

“Kau boleh berkata seperti itu, tapi memang seperti itulah kenyataannya sayang”

Lelaki itu mencium rambut ku yang tergerai dengan begitu lembut, mungkin rambut ku ini adalah bagian yang paling ia suka. Ia memelukku dari belakang dengan pemandangan kota Seoul yang begitu indah saat ini aku tidak ingin waktu berlalu dengan cepat. Aku hanya ingin terus seperti ini, bersamanya.

Oppa, apa kau mencintaiku ?” Aku menolehkan kepalaku menghadap kearahnya.

“Kau bertanya bahkan yang jawabannya pun sudah kau tahu”

“Aku kan hanya bertanya”

“Dengarkan perkataan ku baik-baik, aku Lee Donghae mencintai Im Yoona, sangat mencintai sampai kapanpun aku mencintainya. Apa kau masih ingin bertanya”

Aku tersenyum mendengar penuturannya, lelaki yang selalu menuturkan kata-kata romantis ini mengapa aku bisa jatuh cinta kepadanya. Donghae oppa aku benar-benar mencintaimu.

Ruangan itu begitu sunyi, tapi tidak dengan suasananya yang cukup ramai oleh hilir para siswa. Tentu saja ruangan itu nampak sunyi

Gadis dengan rambut yang diikat dikedua sisi kepalanya itu sibuk mencari sebuah buku yang akan ia jadikan bahan referensi untuk tugasnya nanti. Setelah ia menemukan buku yang ia maksud kemudian ia menuju kesebuah meja yang disediakan untuknya membaca.

Gadis itu mulai membuka halaman demi halaman dan membacanya dengan seksama. Ia begitu serius membaca sampai tak menyadari bahwa ada seseorang yang sudah duduk dihadapannya saat ini. Seseorang itu tampak memperhatikan gadis dihadapannya tanpa ingin menganggunya, ia terus biarkan dan hanya memandang dengan puas.

Setelah gadis itu sadar akan kehadirannya, ia hanya menyunggingkan senyum khasnya dan mulai menyapa gadis itu/

“Kau nampak serius sekali membacanya, aku tidak ingin mengganggu mu tadinya”

“Tapi kau sudah mengganggu ku saat ini”

“Ah begitu rupamya, maafkan aku. Tapi aku hanya ingin memberikan ini”

Lelaki dengan julukan ‘Si Pria Tampan’ itu memberikan secarik kertas dengan sebuha tulisan.

“Yoona, aku menunggu mu” kemudian lelaki itu pergi meninggalkan Yoona yang kembali membaca bukunya.

Saat senja mulai menyapa dan bel sekolah terdengar, siswa Sekolah Menengah Daeyeong kini sudah mulai berhamburan meninggalkan ruang kelas. Raut wajah senang mereka rasakan saat akan kembli pulang dan berkumpul dengan keluarga.  

Satu jam sudah berlalu dan udara dingin mulai menghampiri kota Seoul, salju pertama turun sore ini. Terlihat gadis itu mengeratkan jaket tebal yang ia pakai. Udara akan lebih dingin ketika salju sudah mulai turun. Meskipun udara yang membuat tubuhnya mengigil namun begitu senang melihat salju turun saat ini.

Hampir saja Yoona lupa, ia datang ke taman kota selepas pulang sekolah bukannya untuk menikmati salju tapi ia ingin bertemu dengan seseorang bukan. Dimana dia sekarang bukankah benar disini tempatnya. Seseorang menyuruh Yoona untuk datang kesini tapi dimana orang itu, Yoona belum melihatnya.

“Minumlah, ini akan membuat badan mu sedikit hangat”

Seseorang tiba-tiba memberikannya segelas cokelat hangat dihadapannya.

“Terima kasih, kukira kau melupakan janjimu”

Keduanya menikmati kopi mereka masing-masing.

“Kau tahu kan minggu depan adalah pengumuman kelulusan ujian. Setelah lulus nanti aku akan meneruskan kuliah diluar negeri. Aku akan masuk di universitas impianku nantinya”

“Mengapa harus diluar negeri?”

“Karena disanalah tempat impianku”

“Sebelum aku pergi dan menyesal jika aku tidak mengatakan ini kepadamu. Aku ingin mengatakan suatu hal kepadamu”

“Apa itu ?”

“Aku menyukaimu Yoona. Sudah lama aku menyukaimu  dan baru saat ini aku bisa mengatakannya kepadamu. Sebelum aku pergi nanti aku ingin kau tahu bagaimana perasaanku.”

“Oppa~~”

Donghae namanya, lelaki ini yang telah memiliki perasaan terhadap seorang Yoona. Mereka telah berteman baik disekolah. Entahlah mulai sejak kapan perasaan Donghae muncul kepada Yoona. Mungkin perasaan itu mulai tumbuh sejak keduanya bersama dalam sebuah kegiatan organisasi sekolah.

Sering menghabiskan waktu bersama, saling bertukar ide menjadikannya ……..

“Kau tidak perlu membalas pernyataan ku ini Yoon, Aku hanya tidak ingin jika aku pergi nanti aku membawa beban perasaan terhadapmu”

Donghae tersenyum lembut kepada Yoona, keduanya saling menatap. Donghae meneguk habis kopi yang sudah dingin akibat udara malam ini. Biarkan salju yang meghiasi kediaman mereka saat ini. Cukup lama keterdiaman mereka ditengah salju yang turun.

Ada yang mengatakan bahwa jika kau mengucapkan keinginanmu saat salju pertama turun maka keinginannmu akan terkabul. Saat itu pula Donghae berharap Yoona pun memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Namun bukan itulah satu-satunya keinginan Donghae, dia hanya ingin mengutarakan apa yang sudah ia pendam sejak lama tanpa harus Yoona balas, sekalipun ia menginginkannya.

“Mana bisa kau pergi seperti itu?”

“Apa kau ingin pergi dengan perasaan seperti itu, apa kau tidak ingin mendengarkan penjelasan ku ? Apakah oppa …

Donghae terkejut dengan penuturan Yoona, ia tidak pernah membayangkan Yoona akan berkata seperti itu.

“Apa maksud mu ?”

“Aku~~~aku juga menyukai oppa”

“Apa yang kau katakan ini benar ?”

Yoona mengangguk, ia sebetulnya sedikit malu untuk mengungkapkan perasaannya, tapi mau bagaimana lagi. Perasaan seseorag kan tidak bisa untuk ditahan bukan.

“Jadi apakah kau ingin menjadi pacarku ?”

Yoona dan Donghae menoleh bersamaan, Yoona tidak langsung menjawabnya. Bukannya ia ragu akan pertanyaan Donghae tapi~~~kan sudah ku katakan Yoona cukup malu untuk mengakui perasaannya. Ah dasar wanita, gengsi sekali hanya untuk mengungkapkan perasaannya kepada lawan jenisnya ya.

Yoona pun akhirnya mengangguk, membalas pertanyaan Donghae tanpa mengucapkan kalimat apapu. Baginya cukup dengan bahasa tubuh dan lelaki dihadapannya ini akan mengerti apa maksudnya itu.

Ah semuanya indah saat salju turun pertama kali dimusim dingin tahun ini. Musim dingin yang tak akan terlupakan oleh Yoona dan Donghae. Awal dari musim dingin ini keduanya saling mengikatkan perasaan mereka. Mereka berjanji dibawah salju yang turun untuk selalu bersama.

Donghae oppa masih memelukku dari arah belakang. Aku dan Donghae oppa sangat menyukai Back Hug. Entah mengapa pelukan seperti ini adalah kegiatan yang sangat kami suka. Donghae oppa meletakkan kepalanya dibahuku, tangannya dengan erat menggenggam jemari tangan ku. Kami menikmati udara sejuk dimalam  ini.

“Aku juga mencintai oppa”  Aku membalas pernyataan yang sebelumnya dikatakan Donghae oppa.

“Tanpa kau katakan pun aku sudah tahu kau mencintai ku”

“Dasar tidak romantis sekali kau ini” Aku mengerucut sebal, bukankah seharusnya ia juga bilang ‘Aku juga mencintai mu Im Yoona’ dasar lelaki ini kadang romantis kadang tidak. Aku melepaskan pelukannya karena semakin sebal.

Sebuah pot kecil dengan tanaman kaktus yang begitu mungil ini menarik perhatian ku. Mengapa ada kaktus disini, apakah oppa yang membawanya ?

Oppa, mengapa ada tanaman kaktus ini disini ?” Aku menunjukkan kaktus yang ada diberanda kamar apartemen Donghae oppa.

Aku menyentuhnya sedikit karena kaktus ini memiliki bentuk yang begitu lucu menurutku. Tanpa sengaja aku menyentuhnya terlalu kuat dan menusuk ke jari tangan ku. Tidak begitu sakit memang tapi duri ini membuat jari ku mengeluarkan darah.

Donghae oppa yang melihatnya langsung mengangkat tangan ku. “Kau tidak apa-apa ? Apa sakit ?”

Dia menghisap jari tangan ku, aku menolak perlakuannya tapi ia menahan tangan ku didalam mulutnya. Sungguh aku tidak enak dengan perlakuannya seperti ini.

“Aku tidak apa-apa oppa, sudahlah”

“Bagaimana tidak apa-apanya tangan mu berdarah seperti ini”

Lelaki ini begitu ingin melindungi ku meskipun kejadian ini adalah sebuah insiden kecil tapi sepertinya ia tidak ingin melihat ku terluka. Sungguh beruntung aku memilikinya. Ingatan ku pun kembali berputar saat malam itu terjadi.

Suara ketukkan sepatu hak tingginya begitu nyaring, tak salah jika suara itu begitu jelas terdengar. Karena malam sudah semakin larut dan suasana juga semakin sepi. Sebagian besar mungkin sudah terlelap dalam posisi tidur yang nyenyak ditemani oleh selimut hangatnya. Mungkin hanya sebagian kecil saja yang masih tersisa dikesibukkan malam untuk menyelesaikan tugasnya.

Yoona termasuk kedalam sebagian kecil dimalam itu yang masih berada diluar rumah demi menyelesaikan tugas kantornya. Sudah larut seperti ini baru bisa dirinya untuk kembali menuju apartemennya. Bukan lagi menjadi kegiatan yang asing untuknya pulang dalam keadaan larut seperti ini. Ya mungkin bisa dua atau tiga kali dalam seminggu ia akan pulang dalam keadaan jalan yang sudah sangat sepi seperti ini.

Sangat rentan memang seorang gadis pulang dalam keadaan malam yang begitu larut, tapi bukankah minggu-minggu sebelumnya pun Yoona sudah biasa dengan kegiatan seperti ini. Mungkin tidak untuk malam kali ini.

Yoona merasa seperti ada yang mengikutinya dari arah belakang. Entah mungkin itu hanya perasaanya saja atau memang benar. Ia menolehkan kepalanya untuk memeriksa keadaan. Sepi, ya itulah yang dapat menggambarkan suasana malam itu. Ia tak melihat siapapun disana dan kembali melanjutkan perjalannya. Jarak antara halte maupun subway dari apartemennya yang dikelilingi oleh beberapa toko sederhana harus membuatnya berjalan mengelilinginya.

Kini Yoona mendengar suara setapak orangyang berjalan, ia hiraukan suara itu kemudian terus berjalan, berjalan lebih cepat lagi untuk bisa segera sampai ke apartemennya. Hingga akhirnya ia dikejutkan oleh seseorang ah bukan dua orang yang tiba-tiba muncul dihadapannya. Sepertinya orang ini mencari jalan pintas untuk bisa mencegat Yoona.

Yoona terkejut, ia membelalakkan matanya. Ia bingung harus berbuat apa, dan mundur adalah satu kata yang terlintas dalam benaknya sekarang.

“Hai gadis cantik, tidak perlu takut dengan kami” Ucap salah satu dari kedua orang itu.

“Siapa kalian, mau apa kalian ?” Yoona berucap dengan gugup, bailah sepertinya ia sudah mulai cemas saat ini.

“Mau apa kami ? Kami hanya ingin sedikit bersenang-senang dengan mu cantik”

“Kalian jangan macam-macam dan jangan coba mendekat atau aku akan teriak”

Kedua lelaki itu saling berpandangan dan kemudian tertawa, disaat seperti ini apakah ada sesuatu hal yang pantas untuk ditertawakan.

“Kau ingin berteriak sekencang apapun tak akan ada yang mendengarnya sayang”

“Ayolah kita selesaikan malam ini agar cepat selesai, kami kan sudah bilang ingin bersenang-senang sebentar dengan mu”

Lelaki gila pikir Yoona, sepertinya mereka berdua sedang dalam keadaan mabuk. Ah, mau dalam keadaan mabuk atau tidak pun yang jelas saat ini Yoona dalam keadaan yang bahaya. Suasana yang gelap dan sepi membuat kedaan Yoona semakin terdesak oleh kedua lelaki mabuk dihadapannya ini.

Yoona segera mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, ia berniat untuk menghubungi seseorang. Belum sempat ponselnya ia raih, salah satu lelaki itu mengambil tas Yoona dan memberikannya kepada temannya. Yoona semakin panik setelah tasnya diraih oleh lelaki mabuk itu.

Yoona kemudian mencoba untuk kabur namun sayang, ah lelaki itu sudah dahulu menggenggam lengannya. Yoona menangis ketakutan ia bingung harus berbuat apa saat ia ingin berteriak lelaki itu sudah menampar pipi halusnya. Lelakilainnya itu melihat temannya menampar gadis itu kemudian ia menjatuhkan tas yang sebelumnya diberikan oleh temannya itu kesembarang tempat.

Sedetik kemudian getaran ponsel didalam tas terasa, tapi terasa untuk siapa tak ada yang mengetahui jika ponsel Yoona bergetar. Cukup lama ponsel itu bergetar dan kemudian mati, namun tak cukup sekali ponsel itu bergetar. Berulang kali ponsel itu bergetar karena tak jawaban dari sang pemiliknya. Bagaimana dengan pemiliknya saat ini ?

Kini tubuh Yoona sudah terdesak kesebuah tembok bangunan toko. Dihadapannya saat ini kedua lelaki mabuk itu meluncurkan aksi ancamana terhadap Yoona.

“Kami tidak akan menyakitimu jika kau mengikuti keinginan kami, kau mengerti !!”

Mata Yoona hanya terpejam, apa maksudnya tidak menyakiti jika tadi saja ia sudah ditampar dengan begitu keras oleh lelaki itu. Yoona hanya berharap siapapun itu bisa menolongnya saat ini dan segera menghajar kedua lelaki bajingan dihadapannya.

“Aku mohon berhenti, tolong jangan lakukan ini kepadaku, aku mohon”

Air mata Yoona sudah mulai membasahi pipinya, ia bersumpah jika sesuatu hal yang tidak diinginkannya terjadi ia tidak akan mengampuni kedua lelaki ini. Salah satu lelaki itu menarik paksa rambut Yoona sehingga kepala Yoona kini mendongak keatas. Dapat terlihat tetesan air mata Yoona yang terus terjatuh.

“Kau memiliki leher yang sangat indah”

Kemudian lelaki itu mulai mencium leher Yoona dengan seduktif. Ia menghirup aroma yang masih terasa dalam tubuh Yoona. Satu tamparan Yoona layangkan kepada lelaki itu, ia marah akan perlakuan yang tidak pantas untuk ia terima. Yoona meronta dalam kungkungan lelaki yang tersenyum sinis terhadapnya.

“Kau tidak mendengar perkataanku rupanya gadis cantik”

“Hei Hyugak, sepertinya kita harus memberinya pelajaran” ucap lelaki itu kepada temannya.

Yoona mulai pasrah akan sesuatu yang terjadi padanya. Ia hanya berharap siapapun akan datang mnolongnya. Ia menggumamkan satu nama dalam hatinya, nama itu yang selalu terllintas dalam pikirannya. Ia ingin seseorang i tu datang dan menjadi penyelamat untuknya.

Perlakuan dari kedua lelaki itu semakin brutal, Yoona bahkan hampir pingsan dibuatnya. Ia ingin waktu saat ini juga berhenti dan ia bisa melarikan diri. Apa itu terdengar mustahil ?Sampai saat satu lelaki itu mulai ingin mencium Yoona, tepat dipipi kirinya pukulan keras mendarat dari tangan seseorang.

Yoona menoleh sebentar kearah lelaki yang datang disaat yang tepat sebelum akhirnya ia terjatuh terkulai lemas. Yoona sadar dan melihat betapa hebat lelaki itu menghajar secara bergilir kedua lelaki mabuk itu. Hanya saja tubuhnya melemah dan tak dapat menopang keadaannya saat ini.

Donghae oppa akhirnya kau datang, gumam Yoona dalam hati. Lelaki itu –Donghae- benar-benar datang, seakan ada panggilan sinyal SOS yang Yoona kirimkan kepada lelaki itu. Donghae selalu hadir disaat Yoona membutuhkan pertolongannya, seperti yang saat ini terjadi.

Setelah melumpuhkan kedua lelaki mabuk itu dan menghubungi kepolisian, Donghae segera membawa Yoona kedalam pelukan tubuhnya. Perasaan cemas yang ia rasakan sebelumnya seakan memberikan peringatan akan Yoona dalam keadaan bahaya.

Sejak sejam yang lalu Donghae terus menghubungi Yoona namun tak ada satu pun panggilan darinya yang dijawab oleh gadis yang ia cinta itu. Kecemasan pun mulai dirasakan oleh Donghae, hingga akhirnya ia menyusul untuk menemui Yoona di apartemennya. Namun melihat jendela kamar Yoona yang gelap membuatnya bertanya-tanya apakah gadis itu belum pulang. Kemudian ia menyusul …..

“Oppa gomawo”

“Sebaiknya kau tidur, ah apakah obat ini tidak memiliki efek samping. Mengapa kau masih belum tidur juga ?” Donghae melihat kemasan obat yang sebelumnya telah diminum Yoona.

Dengan setia dan sabar Donghae menemani Yoona. Donghae tak habis pikir bagaimana jika ia datag terlambat sedetik saja, mungkin ia akan menyesal seumur hidupnya.

Kejadian malam ini memberikan Yoona sebuah makna, selain ia harus berhati-hati saat berjalan sendiri ditengah malam satu makna yang berarti adalah. Donghae selalu hadir dalam hidupnya disaat ia benar-benar membutuhkannya.

“Oppa kumohon jangan tinggalkan aku”

“Aku akan selalu berada disisimu, tenang saja” Donghae mencoba menenangkan Yoona. Ia mengelus lembut kepala Yoona sampai gadi itu terlelap dalam mimpinya. Semoga mimpi indah hadir dalam tidurnya. Donghae tak ingin melihat Yoona kacau seperti kejadian tadi. Ia berjanji akan selalu berada disisi Yoona dan melindunginya.

Oppa sudah, benar aku tidak apa-apa, duri ini hanya menusuk jari tangan ku bukan seluruh tubuhku”

Aku mengingatkannya untuk berhenti menghisap jari tangan ku.  Aku melihatnya melepaskan jari tangan ku. Kerutan di dahinya pun sudah hilang, mata teduhnya kini menatapku. Aku mengusap pipinya lembut mencoba memberitahunya kalau diriku baik-baik saja.

“Jangan khawatir aku tidak apa-apa”

Donghae oppa menatapku, bagaimana bisa ia begitu khawatir dengan kejadian kecil seperti ini.Aku tahu setelah kejadian malam itu ia selalu mengkhawatirkan diriku meskipun itu hal-hal kecil seperti yang sekarang ini.

“Aku tidak ingin kau terluka lagi” Donghae oppa memelukku, ia mencoba untuk memberitahu dirinya sendiri bahwa aku memang baik-baik saja. Maaf kan aku oppa sudah membuat dirimu khawatir, aku berjanji tidak akan membuat mu khawatir lagi, ucapku dalam  hati.

Keheningan sejenak menghampiri keadaan ini. Aku tidak tahu harus berkata apa , biarkanlah pelukan ini mewakili ungkapan hatiku kepada Donghae oppa. Karena sepertinya aku telah kehilangan kalimat yang harus ku utarakan untuk lelaki yang memelukku saat ini.

Setiap perlakuan yang Donghae oppa berikan mampu membuat lidah ku kelu. Aku seperti dibuat membisu kala ia memberikan perhatiannya. Kalimat yang Aku lontarka seakan tidak pernah cukup untuk membalas perlakuannya itu.

“Apa kau ingin kopi?” Donghae oppamenawarkan kepada ku sekaligus memecah keheningan diantara kami.

“Coklat hangat sepertinya lebih enak dbandingkan segelas kopi”

“Baiklah kalau begitu, segelas coklat akan datang lima menit lagi”

“Ku tunggu dengan senang hati”

Donghae oppa masuk kedalam apartemen yang sudah ia huni semenjak tiga tahun yang lalu. Dari sini aku bisa melihat ia menuju dapur mininya dan segera membuat cokelat. Kesukaan gadisnya disaat musim dingin tiba tak pernah berubah.

Donghae oppa kembali dengan dua gelas cokelat dikedua tangannya. Ia kembali menuju balkon dimana ia dan aku akan menghabiskan waktu bersama untuk menikmati cokelat panas dan salju yang turun. Malam seperti ini memang jarang untuk kami habiskan bersama. Maka kesempatan seperti ini tidak akan kami lewatkan  meski satu detik pun.

Adakah malam yang lebih indah seperti saat ini, mungkin dikemudian hari akan banyak tercipta malam-malam seperti ini tapi biarkanlah untuk saat ini aku dan Donghae oppa menganggapnya bahwa malam ini lah malam yang paling indah untuk kami berdua.

Jalanan kota Seoul yang sudah dipenuhi oleh sinar lampu entah itu lampu taman, gedung atau pun kendaraan yang masih sibuk berlalu-lalang dijalan. Terdengar beberapa kali suara klakson ikut meramaikan suasana khas ibukota. Lampu lalu lintas pun silih berganti warna, merah menjadi hijau kemudian kembali merah lagi dan seperti itu seterusnya.

Sungguh pemandangan dari atas balkon ini adalah tempat yang paling aku suka diantara tempat lainnya dari apartemen milik oppa. Aku dan Donghae oppa begitu menikmati suasana seperti ini.

Aku meletakkan cangkir yang masih tersisa setengah gelas coklat hangat buatan Donghae oppa. Ia menatap lurus kedepan tanpa menyadari aku yang begitu lekat memandangnya. Ia masih meneguk sedikit demi sedikit minumannya itu. Dalam hati aku terus bergumam, betapa beruntungnya aku mencintai pria yang nyaris sempurna dimataku ini.

“Oppa cepat buka hadiahnya, aku penasaran”

Donghae membuka hadiah yang diterimanya satu persatu.hadiah ini memang tidak lah banyak namun yang memberikan hadiah-hadiah ini adah orang-orang terkasih yang Donghae miliki.

“Hei~~yang berulang tahun itu aku. Mengapa kau yang bersemangat sekali ingin melihat apa hadiahnya, huh ?”

“Aku kan hanya ingin tahu hadiah apa saja yang mereka berikan untukmu”

“Aku pun penasaran, dari tadi hadiah yang kubuka hanya dari teman-teman dan keluargu ku. Lalu apa hadiah dari mu untukku ?”

“Eh ? Hadiah dari ku ?” Yoona nampak bingung harus menjawab apa.

Bukannya ia tidak meyiapkan hadiah untuk kekasihnya itu, tapi ia seolah tidak percaya dengan hadiah yang akan ia berikan nantinya. Hadiah yang diterima Donghae merupakan barang-barang yang cukup mewah.

Donghae mengangguk seakan mengiyakan pikirannya tentang Yoona yang tidak menyiapkan hadiah untuk ulang tahunnya. Lama Yoona berpikir akan menjawab apa.

“Ternyata kau memang tidak menyiapkan hadiah untuk ku ya ?”

“Bukan, bukannya aku tidak menyiapkannya tapi aku hanya bingung hadiah apa yang pantas untuk mu”

Donghae menatap Yoona dengan lekat, jarak pandang mereka pun mulai menipis. Yoona memundurkan kepalanya namun sulit karena tubuhnya yangbersandar pada sofa. Yoona pun akhirnya bingung harus berbuat apa hingga akhirnya ia menutup mataya untuk mengurangi rasa berdebar  dijantungnya.

Sebuah ciuman hangat yang begitu lembut menghadirkan kehangatan untuk keduanya. Yoona dan Donghae begitu larut, keduanya saling menikmati sapuan bibir itu.

“Tolong berikan hadiah seperti ini disetiap ulang tahun ku, seperti itu saja sudah cukup untuk ku”

Yoona tersipu malu karena ciuman itu. Ciuman pertama mereka tentunya, begitu manis sekali. Yoona tidak menyangka kalau Donghae akan melakukan hal seperti itu, seharusnya ia mengatakan kalau ingin mencium gadis itu. Dengan begitu Yoona bisa mempersiapkan dirinya agar jantungnya tidak beredebar kencang seperti tadi. Rasanya seperti akan copot saja jantung itu.

Donghae oppa menoleh melihat kearah ku, ia sepertinya begitu terpesona melihat kecantikkan paras ku. Percaya diri sekali kau Im Yoona, tapi sepertinya memang seperti itu.

Aku berhenti tepat dihadapannya, memandang wajahnya yang begitu tampan. Separuh hati ku sudah kuletakkan hanya untuknya. Seluruh hidupku akan ku gunakan untuk mencintainya. Sebesar apapun rintangan dikemudian hari aku akan tetap berada disisinya. Donghae oppa tentu telah banyak memberikan cintanya kepadaku.

Aku mendekat ke arah wajahnya, mendekat dan semakin dekat. Aku menutup mataku terlebih dahulu, membiarkan naluri hatiku yang kini mulai bekerja. Aku menciumnya dengan sepenuh hati yang ku milikki hanya untuknya. Ciuman ini adalah bentuk hadiah terindah yang dapat ku berikan untuknya, dengan rasa cinta yang kumiliki aku persembahkan hadiah terbaik untuk mu Donghae oppa.

“Selamat ulang tahun”

Donghae oppa tersenyum mendengar ucapan itu, sepertinya ia lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Baiklah jika bukan karena ciuman itu mungkin ia tidak akan mengingatnya, jadi Donghae oppa berterima kasihlah kepadaku karena aku sudah mengingat kan mu

“Terima kasih”

Untuk mu Donghae oppa, selamat ulang tahun. Sudah lebih dari tiga tahun belalu kita merayakan hari kelahiran mu bersama. Kau sudah menjadi lelaki yang dewasa dan begitu hebat. Apa yang harus ucapkan kepada mu, aku tidak memiliki banyak kata yang harus ku ungkapkan. Aku hanya memiliki cinta yang besar yang bisa aku berikan seluruhnya untuk mu. Aku yakin kau adalah lelaki yang telah memberikan banyak cinta kepadaku dengan tulus. Apa kau ingat janji kita saat salju turun pertama kali. Saat itu kita berjanji untuk terus selalu bersama, kau harus tahu aku tidak akan pernah mengingkari janji itu. Aku selamanya hanya ingin bersama mu, berbagi cinta dan kasih sayang kepada mu. Jadi teruslah seperti ini sampai akhir nanti, kita harus menepatinya bersama dan terus lah selalu berada disisiku.

Aku mencintai mu oppa, sangat mencintai mu.

-END-

Advertisements

24 thoughts on “Kiss in Snow [Special Donghae’s Birthday]

  1. huaa author… kau membuat q terhura… #eh terharu…. bgs bgt thor ff.a… romantis tis tis tis… andai ddunia nyata jg sprti ini… #shipper pyro akut. dtggu ff author lain.a fighting… 🙂

    YH LOVE 😀

  2. berharap jd kenyataan. amienn..

    huwaa,, sdah lama blog ini tak update ff yoonhae,, kgen ^^
    next project ff yoonhae ditunggu ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: