It’s Because I Miss You Today [SongFic]


Title : It’s Because I Miss You Today
Cast : No-Cast
Author : yoonhaeseokyu
Genre : Sad Romance
Length : One-Shoot

©yoonhaeseokyu


Karena ku begitu merindukanmu hari ini
Apa kau baik – baik saja?
Apa kau masih tetap sama?
Jangan terlalu khawatir
Aku hanya sedikit memikirkanmu
Semua itu karena hujan yang turun hari ini
Dan aku merasa sedikit murung
Jadi aku teringat tentangmu

Awan nampak mendung yang sedang menggantung diatas langit. Semilir angin seakan memanjakan ketenangan dan memberikan sebuah pesan akan hadirnya sang hujan. Sedikit lelah ia rasakan tapi tak sedikit pun rasa lelah itu ia rasa disaat ia merindukan sosok yang hanya bisa ia lihat dari selembar foto yang terbingkai manis diatas meja.
Pigura foto dengan ukiran kayu berwarna coklat berpita warna merah muda yang menghiasi sudut ujung bingkai itu. Sudah sejak 28 bulan yang lalu terpajang didalam meja kamarnya. Menghiasi itulah tujuan ia memajang bingkai itu, namun justru menjadi sebuah pesakitan jika ia melihatnya lagi dan lagi.
Hujan semakin deras turun membasahi, semain deras pula perasaan rindu yang begitu menyesakkan dada menelusup kedalam ruang hatinya. Jari lentiknya mengusap bagian kaca pigura dan kembali mengingat moment yang saat ini hanya tergambar oleh seuntai kertas foto. Ia memikirkan sang kekasih pujaan hati.
‘Aku harap kau baik-baik saja, jangan mengkhawatirkan ku aku hanya begitu merindukanmu sekarang, esok dan seterusnya’
Ia begitu murung, mengapa sang kekasih tak pernah memberinya kabar. Meskipun hanya sepucuk surat yang ia harapkan tapi tak pernah ada. Berperang dengan diri sendiri, melawan perasaan rindu pada seseorang.
Ia selalu mengingat setiap detail yang ada pada diri kekasihnya itu. Entah rupanya, kebiasaannya atau hanya sekedar pesakitan yang ditinggalkannya saat ini. Ia akan selalu mengingatnya. Teringat dengan jelas dalam pikirannya bagaimana tatapan teduh sang kekasih, usapan lembut yang selalu diberikan kekasihnya.
Seperti roll film kamera pikirannya saat ini sedang memutar kenagan manis yang masih teringat dibenaknya. Satu persatu mulai menampilkan kenangan manis dahulu bersama sang kekasih tercinta.

Apakah kau akan kembali?
Apakah kau akan kembali?
Hatiku terasa begitu berdebar malam ini
Aku menunggu sepanjang malam diruangan gelap ini

Malam yang semakin larut tapi tetap tak bisa membuat matanya terpejam barang sejenak. Begitu banyak gejolak yang saat ini ia rasakan. Dalam setiap tidur malamnya ia berharap sang kekasih hadir, meskipun hanya dalam bayangan mimpi. Tapi seperti angan-angan semata impian itu nyatanya tak akan pernah hadir.
‘Kapan kau akan kembali, kau akan kembali bukan?Kembali kehadapanku’
Bahkan setiap malam ia selalu meminta kepada Sang Pencipta agar kekasihnya untuk segera kembali. Kembali kehadapannya dan bisa memeluknya dengan mesara. Tapi sekali lagi Tuhan memang belum dapat mengabulkannya mungkin, namun ia masih terus menunggu kapan akan Tuhan mengabulkan doanya itu.
Hatinya tak pernah tenang memikirkan kapan sang kekasih akan kembali. Kapan waktu itu akan tiba, dan membuatnya kembali tenang. Setiap malam diruangan yang sama ia selalu mengharapkan sang kekasih menghampirinya dan bisa memberikannya pelukan hangat yang lama ia rindukan.
Sinar lampu yang tamaram membuatnya kembali pada perasaan rindu yang kian mendalam. Sepertinya malam ini akan sama seperti malam sebelumnya. Selalu berakhir dengan penantian dan akhirnya ia hanya bisa menunggu kedatangan sang kekasih yang kapan waktu itu datang pun ia tak tahu.

Menunggu dan terus menunggu yang membuatku menangis
Karena aku tahu, semua tidak akan terjadi
Meski kita bertemu lagi
Aku yang selalu menunggu dan menunggumu
Sungguh, aku sangat membencimu
Tapi aku lebih benci pada diriku yang terus menangis
Dan tertawa hanya karena dirimu

Sepertinya ia mulai lelah dengan semua hal yang telah dilaluinya.
‘Mampukah aku bertahan menunggu mu’
Air mata yang tak mampu lagi ia pertahankan akhirnya jatuh dan siap menemaninya melewati sisa malam yang ada. Jika ingin dihitung mungkin tak tahu lagi sudah keberapa kalinya ia menangis dalam keadaan seperti ini.
Mungkin ia sadar bahwa kenyataan kedatangan kekasihnya tak akan pernah ada. Tapi ia mencoba untuk menghilangkan kemungkinan itu. Tapi ia terus dan terus setia menunggu sang kekasihnya sekalipun itu tak akan pernah terjadi.
Ia yang selalu menunggu dan terus menunggu, menangis dan terus menangis. Meskipun sang kekasihnya mungkin tak pernah tahu pengorbanannya. Ia mencoba untuk membenci kekasihnya tapi ia tetap tak bisa. Bahkan ia justru membenci dirinya sendiri yang terus dan terus saja menangisi sosok yang tak pernah nampak itu.
Ia memang bodoh, mengapa hati dan pikirannya hanya tertuju pada satu sosok itu. Hanya kepada sosok yang begitu ia rindukan.

Semua itu karena
Aku sangat merindukanmu hari ini
Mungkin karena angin terasa begitu dingin
dan cuaca yang begitu cerah
Jika waktu berlalu sedikit lebih cepat
Bisakah aku bertemu denganmu sekali lagi?
Jika kau bertemu seseorang yang lebih baik
dan membuatmu bahagia
akankah kau melupakanku?

Sinar matahari menyambut pagi itu dengan manis, sisa hujan semalam masih membekas pada dahan dan ranting pepohonan. Kicauan burung seolah menjadi panggilan untuknya kembali memulai aktivitas seperti biasa.
Sapaan mentari pagi dihari yang cerah membuatnya sedikit bersemangat untuk kembali mengerjakan aktivitasnya. Segelas susu hangat dan roti yang telah diolesi dengan selai favoritnya, ah bukan bahkan selai roti ini pun juga merupakan selai kesukaan sang kekasih. Mengapa semuanya harus berhubungan dengan sosok itu.
Setelah sarapan singkat itu kemudian ia langsung meninggalkan rumah dan berjalan menuju halte pemberhentian bis seperti biasanya. Sepoi semilir angin sejuk begitu terasa menerpa wajahnya. Cuaca cerah hari ini seakan ingin memberikannnya semangat ditengah cuaca buruk dalam hatinya.
Ia dudukkan dirinya pada kursi dan meregangkan sedikit tubuhnya. Ia tidak sendiri duduk disana, banyak orang yang bahkan berlalu lalang untuk memulai pekerjaannya. Kala ia menatap ke arah seberang jalan, sebuah cafe yang berdiri kokoh dengan pelanggan yang belum begitu ramai. Diselingi mobil-mobil yang berlalu lalang ia hanya menatap ke satu arah, dan dirinya pun bergeming menatapnya.
Hembusan angin membawanya pada pertemuan awal yang begitu hangat. Bagaimana saat itu dirinya terpana melihat sosok yang begitu gagah membantunya. Pertemuan yang sangat membekas indah pada hatinya. Seumur hidupnya bahkan ia tak akan melupakan kenangan pertama bersama pria itu, bahkan sampai saat ini. Meskipun ia sendiri tak menyadari apakah pria nya itu sudah melupakannya atau masih kah pria itu juga masih mengingatnya.
Entah dimana pria yang sangat ia cintai itu kini berada, ia hanya berharap akan pria itu masih mengingat dirinya. Meskipun suatu saat nanti pria itu tak bersama dirinya lagi dan akan berbahagia dengan wanita lain. Dirinya hanya berharap bahwa pria itu memberikan ruang didalam hatinya untuk kenangan bersama dirinya.

Semakin aku memikirkannya
percuma, semua sudah berakhir
Tapi, aku sangat merindukanmu
Aku merindukanmu, aku merindukanmu

Tepat saat sang mentari senja mulai turun diperaduan timur menenggelamkan sinarnya, dirinya mulai bergegas keluar gedung dan menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Angin begitu sejuk menyambut kehadiran dirinya yang saat itu tepat beranjak menyusuri jalan yang sudah padat dilalui oleh para pejalan.
Langkahnya berbelok memasuki kedai kopi disebuah persimangan sudut jalan. Lonceng berbunyi menandakan akan kehadirannya dikedai bernuanasa cokelat kehitaman. Pikirannya kini hanya berpusat pada sebuah menu kopi yang ingin ia pesan. Sebuah (menu kopi) yang akan menemaninya disepanjang perjalanan pulang.
Pikirannya berubah saat seorang pelayan memberikan pesannya. Ia tak habis pikir mengapa ditempat ini pun ia masih memikiran sosok itu. Ia memandang kearah dua buah gelas kopi yang belum juga ia ambil. Mengapa dua gelas kopi padahal kenyataannya ia hanya seorang diri.
Ia ambil kedua gelas berisi kopi yang masih mengepulkan uap panas keudara. Musim dingin memang sangat pas untuk menikmati panasnya kopi yang baru saja ia pesan. Caffè Latte untuk dirinya dan Caffè Misto untuk seseorang yang menunggunya diluar dengan Bungeoppang* yang baru dibelinya.
Keduanya menikmat kopi dan Bungeoppang kemudian melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Keduanya bercengkrama saling berbagi cerita, membuat iri siapa pun yang melihat kisah kasih mereka. Di bawah salju pertama yang turun saat ini mereka saling berucap janji. Janji yang akan mereka tanam untuk selamanya, dalam pikiran, hati dan perasaan mereka.
Kebersamaan dalam cinta hari ini yang akan selalu mereka ingat..selamanya.
Sinar senja kini sudah benar-benar menghilang berpindah tempat kebelahan bumi lainnya. Saatnya bulan dan bintang yang akan bertugas menggantikan sang mentari untuk berjaga menerangi kota. Namun sayangnya rembulan dan bintang saat ini enggan untuk menampakkan dirinya. Tinggal lah gemerlap sinar lampu yang bisa diandalkan.
Biarlah sinar bulan dan bintang tak nampak malam ini, setidaknya masih ada gemerlap sinar dari sebuah lampu-lampu ibu kota yang mampu menerangi malamnya kali ini. Malam tidak benar-benar gelap bahkan saat bulan dan bintang tidak ada sekalipun, masih ada seberkas cahaya dari sinar yang lainnya yang mampu membuatnya terang.
Sama seperti hatinya, mungkin ia bisa menerpakan perumpamaan itu untuknya sendiri. Perasaannya kini bagaikan kelamnya malam tanpa sinar bintang maupun bulan. Ia harus mencari seberkas sinar lain yang mampu untuk membuat perasannya kembali bersinar.
Apakah memang dirinya memang harus benar-benar melupakan setiap kebersamaan bersama sosok yang masih ia cintai saat ini. Ia tak pernah lelah untuk selalu memikirkannya. Meskipun ia tahu sekuat apapun ia memikirkannya, mungkin memang semua keindahan bersama pria itu harus berakhir seperti ini. Dirinya bisa saja untuk melupakan kenangan indah itu namun ia tak sanggup untuk menghapusnya begitu saja. Karena ia masih sangat merindukannya. Ia merindukan hangatnya genggaman kasih sayang yang selalu mereka bagi bersama. Tidak, seertinya ia tidak sanggup, dirinya sangat merindukan pria itu.

Menangis begitu lama,
Karena, bagaimana kerasnya aku berusaha
Kau tetap tidak akan datang
Tapi tetap saja, jika aku terus menunggu
Jika aku tetap merindukanmu
Mungkin kau akan melihatku
Meskipun hanya sekejap
Jadi, aku terus menunggu untukmu
Semua itu karena,
Aku begitu merindukanmu hari ini

-END-

* Bungeoppang : Wafel ini dicetak berbentuk ikan mas dan diisi dengan kacang merah, ubi manis, chesnut, coklat dan masih banyak lagi cita rasa lainnya. Cetakannya pun dibuat khusus menyerupai ikan mas.Meskipun berbentuk ikan bungeoppang tidak memilikirasa atau mengandung bahan ikan. Di Korea, kue ini dianggap membawa keberuntungan bagi yang memakannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: