The Honesty of Love


Title     : The Honesty of Love

Author : yoonhaeseokyu

Cast     :Cho Kyuhyun – Seo Joohyun

Genre   : AU, Sad

Type    : One-Shoot

Seokyu

©yoonhaeseokyu

START

Suasana terasa terik dimusim panas tengah menghinggapi salah satu belahan dimuka bumi ini. Memasuki sekitar bulan Juni sampai Agustus teriknya matahari dapat kita rasakan dikota –Seoul- yang sangat aku cintai ini. Kota kelahiranku dengan penuh sejuta pesona. Namun beruntung angin masih berbaik hati untuk menghembuskan sedikit kesejukannya, mengurangi terpaan panas sang matahari yang saat ini mungkin sedang bertengger dilangit sana.

Suara Kicauan burung, deru suara mobil yang sedang berlalu lalang menambah kekhasan suasana siang musim panas saat ini. Aku melangkahkan kakiku ini terus lurus kedepan, mengikuti alur jalan yang tercipta. Setapak demi setapak kaki ini terus melangkah. Angin sejuk masih setia menemani perjalanan santai ku dipagi menjelang siang hari ini. Tidak buruk juga berjalan saat musim panas seperti ini.

Bruk

“Maaf nona, aku tidak sengaja” Tepat pada bahu sebelah kanan seseorang menabrakku ,dari cara bicaranya sudah kupastikan seseorang yang menabrak ku saat ini adalah seorang wanita. Jika aku tak salah prediksi, mungkin umurnya saat ini berkisar antara 25 tahun-an. Karena suaranya yang terdengar sudah tak muda lagi dan juga terdengar belum begitu tua. Ah ayolah waktunya tidak pas disaat seperti ini untuk menebak berapa umur orang ini. Buru-buru pemikiran itu langsung ku hilangkan saat aku mencari dimana benda yang sempat kupegang tadi.

Aku meraba pada sisi jalan mencari keberadaan benda yang sangat teramat penting bagi orang sepertiku. Tak ada barang itu akan sedikit menyulitkan aktivitasku sehari-hari, bukannya aku bergantung pada benda itu tapi memang disituasi seperti ini barang itulah yang paling penting. Tanganku ini masih sibuk mencari dan terus mencari. Seperti sebuah  GPS, benda itu bagaikan penunjuk arah kemana kakiku akan melangkah. Namun sayangnya benda yang kumiliki ini tak secanggih GPS itu, tapi tetap saja benda itu amat penting untukku.

“Ini nona, sekali lagi aku minta maaf, sudah tak sengaja menabrakmu”

Mungkin wanita ini telah melihat gerak-geriku yang gelisah mencari sebuah benda dibawah sini. Kemudian wanita itu akhirnya memberikan benda ini padaku padaku, ya benda ini –tongkat- yang sedari tadi kucari, syukurlah. Ia memberikannya dengan menggegamkannya ketangan ku. Sebuah tongkat lipat berwarna abu-abu yang selalu ku bawa kemana pun aku pergi. Aku mengenggamnya dengan kuat, takut benda itu akan terlepas lagi.

“Terima kasih, tidak apa-apa, bukankah aku masih baik-baik saja. Jadi kau tak usah sungkan begitu nona” aku mencoba untuk berbicara padanya, meskipun aku tak tahu arah pandangan ku saat ini benar atau tidak untuk menatap lawan bicaraku ini.

“Apa nona tidak apa, aku sedang terburu-buru. Maka dari itu aku tidak melihat mu didepanku” Kembali wanita itu meminta maaf. Sepertinya ia merasa bersalah telah menabrakku tadi.

“Aku benar-benar tidak apa, ah mungkin kau bisa membantuku. Tolong arahkan aku kearah jalan sebelum kau menabrakku tadi nona” Wanita itu memegang lengan ku, memposisikan tubuhku sesuai perintahku tadi.

“Kau hanya tinggal jalan lurus kedepan saja, dan sekitar 5 meter kedepan akan ada persimpangan jalan” Dia sedikit menjelaskan mengenai kondisi jalan yang akan aku lalui nantinya.

“Kalau begitu terima kasih” Aku membungkukkan badanku, dan pergi meninggalkan wanita itu. Kembali berjalan menyusuri jalan dengan langkah ringan. Suara ketukkan tongkat ku ini menjadi sebuah pengiring irama disepanjang jalan yang sepertinya cukup ramai. Bagaikan sebuah alat pendeteksi, sebuah tongkat ini membantuku untuk mengetahui apa saja yang ada dihadapanku.

Dengan genggaman tongkat yang kugunakan sebagai alat pengganti mataku untuk merabai setiap jalan yang ku lalui. Benar, sebuah tongkat yang menjadi ciri khas orang-orang seperti ku. Aku ini adalah seorang gadis yang sudah tak bisa melihat indahnya dunia lagi, hitam adalah warna yang terus menemani hari-hariku. Serta tongkat ini adalah sahabat setiaku, yang selalu menemaniku kemanapun aku akan pergi. Buta, ya itulah kata yang pas untuk mendefinisikan kondisiku saat ini. Cacat fisik yang ku alami tak sedikit pun mengurangi segala aktivitas ku, selalu bersemangat untuk menjalani kehidupan ini adalah sebuah kalimat penyemangat dikala ku memulai aktivitas.

Tak masalah bagiku keadaan yang seperti ini, bukankah hidup ini adalah anugerah dari Tuhan yang harus kita jalankan. Sama seperti yang sedang kulakukan saat ini, berjalan menyusuri sepanjang jalan, dan seperti itu pulalah kehidupan jalan yang harus kulalui kedepan. Meskipun penuh dengan rintangan dan sedikit hambatan, aku akan tetap berusaha melaluinya.

===

Aroma pepohonan nan sejuk begitu menyeruak tercium dihidungku, aroma yang begitu khas. Sedikit suasana sunyi begitu menghinggapi sebuah pelataran bangunan yang menjadi kediaman ku semenjak kecil. Setapak rumah ini dipenuhi oleh rerumputan yang menyegarkan aroma untuk dihirup, kakiku dapat merasakan setiap aku melintasi memasuki rumah ini. Sang pemilik sangat menyukai penghijauan. Menurutnya, rumah yang dipenuhi dengan pepohonan atau rerumputan seperti ini akan terasa lebih menyejukkan. Baiklah aku setuju, karena suasana seperti ini terasa begitu menenangkan jiwa dengan aroma pepohonan dan rerumputan.

“Oh~~~ Seohyun-ah, kau sudah datang rupanya. Masuklah” Suara wanita paruh baya yang sudah tak asing lagi untukku, bibi Oh Jung Eun namanya. Ia sudah ku anggap seperti ibuku sendiri. Hatinya yang bagaikan malaikat membuatku terasa nyaman bila berada dekatnya, tak jarang pula aku selalu menceritakan keluh kesah ku padanya.

Bibi Oh adalah seorang pendiri panti asuhan, bukan seperti panti asuhan pada umumnya namun ditempat ini menampung anak-anak yang berkebutuhan khusus. Orang-orang seperti kami yang mungkin orang lain anggap sudak tak ada guna yang hidupnya hanya menyusahkan orang lain saja. Orang-orang yang memiliki segala kekurangan, Tapi tidak dengan bibi Oh, ia bagaikan seperti seorang malaikat yang begitu baiknya ingin mengurus segala kebutuhan kami.

Aku tersenyum menanggapi ucapannya itu, “Bibi, aku sudah lapar. Kau memasak apa hari ini?”

Sebenarnya aku sedikit menggoda bibi Oh, meskipun aku tak dapat melihat bagaimana ekspresinya tapi aku bisa mendengar kalau ia terkekeh mendengar pertanyaanku itu. Kami memasuki panti dan segera menuju kedapur, aroma masakan langsung menyambutku dan perutku pun mulai meronta-ronta untuk minta diberi makan. Bibi menuntunku untuk duduk dimeja makan, meskipun sejujurnya aku tak begitu suka jika harus dituntun seperti ini karena menurutku aku masih bisa melakukannya sendiri kan.

Aku tak ingin menyusahkan orang-orang yang berada disekelilingku, jika aku masih bisa melakukannya sendiri maka aku akan melakukannya dengan usaha ku sendiri. Aku juga ingin diperlakukan layaknya orang normal biasa, meskipun pada nyatanya aku ini memang seorang gadis buta. Gadis yang sudah tak dapat melihat lagi, seorang gadis yang yang menurut bibi Oh memiliki mata indah, namun sayang mata indah ku ini tak dapat melihat lagi indahnya dunia yang Tuhan ciptakan.

“Makanlah, dari arah kirimu terdapat nasi putih, sup, Jang-Jorim (irisan daging sapi yang dibumbui kecap serta kaldu sapi), ggakdugi (irisan lobak berbentuk dadu dengan cabai merah) dan tak lupa kimchi buatan bibi kesuakaan mu ”

Menganggukkan tanda mengerti aku tunjukkan pada bibi Oh, kemudian ia meninggalkan ku sendirian diruang makan ini. Begitu sunyinya ruangan ini, sampai-sampai yang terdengar hanya dentingan sendok dengan piring ku saja, kemana yang lainnya ? Biasanya yang lain akan sibuk untuk memenuhi kebisingian ruangan hingga telinga ku ini rasanya ingin pecah saja jika mendengar keributan-keributan kecil yang suka mereka ciptakan.

Dengan segera aku menghabiskan makanan yang dimasak oleh bibi, sungguh masakkan bibi ini memang yang paling enak. Tangannya seperti tangan seorang koki direstoran hotel berbintang, menyajikkan masakan-masakan dengan cita rasa yang tak kalah enaknya. Setelah kuyakini semua makanan itu telah habis masuk keperutku dan segera aku meletakkan piring-piring kotor ini kedalam wastafel pencuci piring, mungkin akan kucuci nanti saja karena rasa penasaran akan situasi ini sudah menguasi pikiranku.

Dengan segera aku melangkahkan lagi kakiku menuju taman belakang. Karena disanalah biasanya yang lain akan berkumpul, entah bermain, membaca buku atau mengerjakan sesuatu hal yang dapat mengisi waktu luang. Akh aku hampir lupa, pantas saja ruang depan dan ruang makan terasa begitu sepi, bukankah semuanya akan berkumpul ditaman belakang. Dan disanalah tempat favorit anak-anak dipanti ini, dapat menghabiskan waktu bersama dan bercengkrama.

Namun belum sampai aku ditaman, tiba-tiba instingku mengatakan bahwa tengah ada seseorang yang sedang berdiri dihadapanku saat ini. Apa kalian tahu, jika salah satu panca indra kita tidak berfungsi dengan baik, maka panca indra yang lainnya akan bekerja lebih maksimal. Sama seperti diriku, walaupun mataku ini tak dapat melihat, namun pendengaranku dua kali lebih tajam menangkap suara-suara disekitar ku ini. Pejamkan lah matamu dan kau akan merasakan juga apa yang aku rasa.

“Kyuhyun oppa, apa itu kau ?” Pandangan ku ini memang menatap kedepan, namun mata ku ini tengah memancarkan sesuatu kekosongan. Menatapnya penuh dengan tanda tanya, apa saat ini seseorang yang ada dihadapanku tengah melihat ekspresiku ini ? Katakanlah sesuatu, ayo.

Benar saja ia mengucapkan sesuatu, namun hanya suara yang tak begitu jelas yang ia ucapkan yang saat ini aku dengar. Mungkin jika orang lain yang mendengarnya, mereka tak akan mengerti apa yang terucap barusan. Namun beruntung sekali karena aku mengerti ucapan yang tak jelas itu apa maksudnya. ‘Ya, Seohyun-ah ini aku’ begitulah arti ucapan itu. Aku bukan menerka-nerka apa yang baru saja ia ucapkan, karena memang itulah yang ia ingin ucapkan padaku. Mungkin saat ini Kyuhyun oppa sedang tersenyum melihatku, ah mengapa aku jadi malu seperti ini, aku kan tak melihat wajah dirinya.

Kyuhyun oppa, salah satu bagian dari panti asuhan ini juga. Ia juga sama seperti ku yang memiliki suatu kekurangan, namun sedikit berbeda dengan ku karena jika aku ini adalah seorang gadis buta maka ia adalah seorang pria sempurna –menurutku- dengan segala kebaikan hatinya. Kelembutan hatinya dapat menaklukan hati siapapun, dia itu seperti malaikat tak bersayap yang dikirimkan Tuhan untuk panti ini.

Namun sayang, Kyuhyun oppa mengalami masalah dalam berbicara. Anggap saja ia bisu atau disambiguasi adalah ketidakmampuan seseroang untuk berbicara yang disebabkan karena gangguan pada tenggorokan, paru-paru, pita suara, mulut atau lidah. Kyuhyun oppa mengalami kebisuan semenjak ia kecil. Karena pada kenyataannya ia tak bisa mengucapkan kalimat yang begitu jelas saat berbicara, maka dari itulah hanya ucapan yang tidak begitu jelas yang selalu terlontar dari mulutnya. Namun dengan kekurangannya seperti itu tidak mengurangi kelembutan dan kehangatan hatinya, sungguh ia pria yang sangat baik.

Sedikit cerita mengenai kisah kami dipanti ini, yang memang semenjak bayi kami sudah ditinggalkan ditempat ini. Tempat dimana menurut sebagian anak-anak adalah sebuah tempat yang begitu kelam dan menyedihkan. Tempat dimana kasih sayang orang tua –mungkin- sduah tak dapat kami rasakan lagi, tempat dimana kami tak bisa melihat ayah atau ibu kami lagi. Karena disinilah memang tempat untuk kami yang sudah ditinggalkan oleh salah satu atau kedua orang tua kami. Karena jika saja orang tua kami masih ada tidak mungkin kan kami berada ditempat ini.

Kami sama-sama ditinggalkan oleh kedua orang tua kami masing-masing. Aku ditinggalkan oleh kedua orang tua ku disini, dan menurut cerita bibi dahulu ibuku meninggalkan ku disini karena ia beralasan untuk pergi bekerja mencari uang untuk membiayai operasi mataku. Mungkin alasan ku sebelumnya mengenai tempat ini salah yang mengatakan ‘jika saja orang tua kami masih ada tidak mungkin kan kami berada ditempat ini’, memang saat itu ibuku masih ada dan buktinya ia menitipkan ku disini. Namun setelah beberapa tahun berlalu justru ibuku tak pernah kembali, dan alasanku benar bukan. Tempat seperti ini memang bagaikan suatu tempat dimana para orang tua sudah tak menginginkan anak seperti ku. Atau memang pada kenyataan sebenarnya anak itu memang telah ditinggal oleh orang tuanya –meninggal-

Saudara ? ya benar jika saja masih ada kerabat atau sanak saudara mungkin tak akan seperti ini. tapi sayangnya ibuku lebih memilih menitipkan ku disini. Entahlah, apa ia memang sengaja meninggalkan ku atau ia sudah lupa telah menitipkan ku disini. Namun yang jelas, setelah hampir 20 tahun ia pergi, sekalipun ia tak pernah kembali lagi ketempat ini. Ibu, apa kau tak merindukanku, aku sangat merindukan ibu.

Cerita berbeda dengan Kyuhyun oppa namun masih bernasib sama dengan ku, ia ditinggalkan kedua orang tuanya memang karena sengaja. Baiklah, orang tua mana yang tega meninggalkan anaknya sendiri seperti itu. Orang tuanya meninggalkannya dipanti ini saat ia berumur 4 tahun. Aku tak tahu apa alasan orang tuanya meninggalkan ia disini. Namun alasan yang selalu kudengar dari Kyuhyun oppaadalah ‘Mungkin orang tua ku malu mempunyai anak bisu seperti ku’.

Begitu banyak cerita dan alasan yang dialami oleh anak-anak dipanti ini. Jika ia malu mempunyai anak seperti kami yang menderita cacat, maka mereka telah menyia-nyiakan anugerah yang Tuhan berikan. Menurutku tak ada alasan seorang orang tua menelantarkan darah dagingnya sendiri, karena bagaimanapun seorang anak yang tak berdosa tak pernah meminta untuk dilahirkan kedunia ini. Yang mereka tahu adalah mereka dilahirkan didunia ini karena rasa cinta sepasang manusia dan untuk melengkapi apa yang disebut dengan sebuah keluarga.

Baiklah lupakan cerita menyedihkan itu, meskipun kami tumbuh dan besar tanpa hadirnya seorang ayah dan ibu disisi kami, tapi dengan kehadiran bibi dan anak-anak yang lain serta kasih sayang tulus yang tumbuh dan tercipta ditempat ini sudah cukup untuk membuat hidup kami sempurna. Kebahagiaan saling kami berikan untuk memenuhi ruang kosong kesedihan, agar kesunyian itu tertutupi dengan indahnya kebersamaan yang tercipta.

Akhir pekan seperti ini selalu kami lakukan untuk bersenang-senang. Mendengar suara-suara riang tawa anak-anak membuat ku ikut tersenyum. Meskipun mata ini tak dapat melihat keceriaan yang mereka ciptakan, namun telinga ku masih dapat menangkap suara gelak tawa kebahagian mereka semua.

===

oppa, sepertinya cuaca hari ini sedang bagus. Apa kau mau jalan-jalan bersama ku ?” Tanyaku pada Kyuhyun oppa, kira-kira apa yang sedang ia lakukan ya ?

“Mmmm” Balasnya. Hanya jawaban seperti yang ia lontarkan. Sebenarnya, Kyuhyun oppa berkomunikasi dengan menggerakkan anggota tubuhnya, memberikan kode-kode bagian tubuh kepada sang lawan bicaranya. Namun karena mataku ini tak bisa melihat, ya mau tidak mau kami harus saling belajar dan memahami kekurangan kami masing-masing.

Kyuhyun oppa langsung menggegamkan tangan ku dan segera berlalu meninggalkan panti. Sepertinya ia yang lebih bersemangat untuk pergi dibandingkan aku. Ah jika aku bisa lihat mungkin saat ini ekspresinya ia sedang mengembangkan senyum lebar diwajahnya, lihat saja ini jalannya saja begitu bersemangat. oppaaku ini tak bisa melihat, mengapa kau seenaknya saja jalan seperti ini. Menyebalkan, ah tidak aku kan ingin bersenang-senang, jadi Seohyun kau harus menjaga mood mu untuk tak sebal dahulu kepada pria baik ini.

Baiklah, sepertinya pergi menuju Namdaemun musim panas saat ini tak begitu buruk. Maka dari itu kami berdua memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri sepanjang jalan Namdaemun, sedikit membelikan pernak-pernik untuk semua yang ada dipanti pasti menyenangkan, pasti mereka senang.

Sedikit bererita mengenai pria yang sedang menggenggam tangan ku saat ini, pria yang berhati lembut namun sedikit menyebalkan. Bagaimana tidak, hampir disetiap ada kesempatan ia akan terus menjahiliku atau anak-anak yang ada dipanti. Di satu sisi ia akan bersikap lembut dengan hatinya yang baik bagaikan seorang malaikat yang turun dari langit, namun disisi lain ia bisa menjadi seorang evilyang begitu jahil dengan segala seribu jurus kejahilannya. Tapi aku suka dengan itu.

===

Semilir angin menambah kesejukkan yang tercipta diakhir pekan minggu ini. Suasana pasar terbesar dan tertua di Seoul ini begitu riuh oleh suara para pedagang yang menjajakan dagangannya begitu banyak barang yang ditawarkan ditempat ini. Adu tawar-menawar pun tak pernah luput terasa dipasar ini. Namdaemuntak pernah sepi, apalagi memasuki akhir pekan seperti ini. Sisi kanan dan kiri nampaknya begitu ramai,

Kami berkeliling mengitari wilayah ini, dan jika akan memasuki sebuah toko Kyuhyun oppa akan mengatakan padaku, apa nama toko dan jenis barang apa yang dijual ditempat itu.

Selama beberapa jam kami puas mengitari tempat ini, kami berhenti sejenak sekedar melepas penat. Ingat saat ini musim panas, keringat pun tak

Kyuhyun oppa mengucapkan sebuah kalimat, ‘eo au iu ia’ terdengar huruf vokal seperti itulah yang hanya bibirnya ucapkan. Sepertinya ia ingin mengatakan ‘Seohyun, kau ingin minum tidak?’, ya itulah kalimat yang kutangkap. Sebagai balasannya aku mengangguk dan tersenyum padanya, seketika itu pula terdengar gerakan kakinya melangkah pergi. Mungkin Kyuhyun oppaingin membelikan minum yang segar dan dingin untuk kami teguk dimusim yang panas seperti ini.

Namun sudah beberapa menit aku menunggu Kyuhyun oppa, kenapa ia belum kembali juga. Memangnya ia membeli minuman sampai kemana, kenapa lama sekali. Dan mengapa perasaanku menjadi tidak enak begini, apa sesuatu telah terjadi padanya. Pikiran-pikiran tak baik begitu saja melayang dalam benakku. Aku hanya berharap kembali kesini dengan segera.

“Apa yang kau lakukan pria bodoh, kau telah mengotori pakaianku !!!” Sebuah teriakan seorang pria begitu nyaring sampai terdengar ke telinga ku. Teriakannya terdengar dari arah sebelah kiri, entahlah mungkin sedang terjadi insiden disana. Namun sepertinya teriakan sang pria itu membuatku ingin lebih tahu lagi apa yang terjadi sebenarnya.

“Kenapa kau hanya diam saja, cepat minta maaf !!!” Ucapnya lagi dengan nada yang begitu keras, kenapa pria ini kasar sekali. Memangnya kesalahan apa yang pria (lain) itu lakukan sampai pria ini begitu marah. Tapi sepertinya pria itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya, karena tak ada ucapan kata ‘maaf kan aku’

Sepertinya pria yang sedang marah-marah ini masih berusia muda, terdengar dari nada bicaranya yang begitu menyulut. Apa dia tidak bisa lembut sedikit, meskipun pria itu melakukan kesalahan tapi tidak dengan marah-marah seperti ini kan seharusnya. Apalagi ini ditempat umum, sudah pasti banyak yang akan melihat bukan,meskipun aku sendiri tak dapat melihat kejadiannya seperti apa. Tapi bisikan-bisikan orang-orang disekitar sudah dapat memberitahu ku bahwa sekarang sudah banyak kerumunan orang.

“Apa kau ini bisu, hah ?!” Pria ini terus saja berteriak dengan suara menggelegarnya bagaikan petir yang hadir di siang bolong.

“Maa..f..kan a…u”

“Benar-benar pria bisu kau rupanya”

Apa katanya, pria bisu ? Apa jangan-jangan itu Kyuhyun oppa? Oh ya tuhan, disaat seperti ini aku hanya ingin mataku ini dapat melihat apa yang terjadi. Bisakah keajaiban itu datang detik ini, sebentar saja.

Dengan merentangkan kedua tangan ku, aku menghampiri kedua orang pria itu. Semoga saja aku tak salah jalan dan hanya berbekalkan pendengaran untuk menghampiri mereka.

“Kyuhyun oppa?” Memanggilnya adalah salah satu jalan yang tepat, benarkah pria itu yang ku maksud adalah Kyuhyun oppa. Kemudian sebuah tangan melingkar dipergelangan tangan ku, menuntunku untuk berjalan kesisinya.

“Baiklah, setelah pria bisu ini mengacaukan ku sekarang temannya sang gadis buta juga ingin membelanya ?”

“Tuan, tolong maafkan sahabat ku ini, dia sedikit ada gangguan dengan cara bicaranya” Aku berusaha untuk menjelaskan kondisi yang sedikit memanas ini.

“Yak kalian, para penyandang cacat seperti kalian seharusnya tak berkeliaran ditempat umum seperti ini. Kalian itu menyusahkan kami saja, lebih baik kalian pulang saja !!” Pria ini berucap begitu keras, mungkin semua orang bisa mendengar ucapannya barusan.

Kalimat yang meluncur bebas dari mulut pria ini, sungguh sangat menyayat hatiku sampai kebagaian ulu hati. Bagaikan sebuah duri yang begitu saja mencelos masuk kedalam tubuh. Keterlaluan sekali pria ini, apa dia tak punya hati mengatakan hal seperti itu.

“Tuan meskipun kami ini cacat, tapi apa salah jika kami ini tidak bisa merasakan apa yang orang normal juga rasakan. Apa kecacatan kami ini adalah suatu kesalahan yang kami sengaja perbuat, bahkan aku sendiri tak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai orang cacat”

“Diperlakukan berbeda dan dipandang sebelah mata, apa itu tidak terasa menyakitkan untuk kami. Menganggap kami ini seperti sebuah alien yang harus dihindari, apakah anda pernah merasakan bagaimana rasa sakit hati kami terhadap perlakuan seperti itu”

Pelupuk mataku kini sudah tergenangi oleh air mata yang akan siap meluncur membasahi wajahku, tak ku pedulikan pandangan orang-orang nantinya bagaimana. Toh aku juga tak akan melihat ekspresi mereka seperti apa.

Kyuhyun oppa mencengkram tangan ku begitu erat seolah menyuruhku untuk menghentikan ucapan-ucapan yang sudah keluar dari mulutku. Entahlah, sepertinya aku sedang mencurahkan segala keluh kesah ku selama ini kepada orang yang selalu menganggap kami ini sebelah mata.

Bagaimana lelahnya menjalani hidup seperti ini, dicemooh dan seperti diasingkan. Memangnya apa salah kami kalau kami ini mememiliki kekurangan seperti ini, apakah diremehkan seperti ini kami merasa senang. Begitu menyakitkan mendengar kalimat-kalimat cibiran seperti ini.

“Se-o-hyu-n-ah a-yo ki-ta pu-la-ng” Kyuhyun oppa memegang tanganku, mengajak keluar dari situasi kelam seperti ini.

Aku mengkikuti perintahnya untuk segera meninggalkan tempat yang sudah menjadi ‘panggung hiburan’ sesaat bagi orang-orang disana.

Sungguh, tak ada niatan sedikit pun untuk ku atau Kyuhyun oppa maupun orang yang sama seperti kami ini meminta untuk dijadikan seperti ini. Keadaan seperti ini mengalir begitu saja karena ada campur tangan Tuhan didalamnya, bukan karena kami sengaja meminta untuk dijadikan seperti ini. Tuhan menciptakan setiap insan dengan kelebihan dan kekurangnnnya sendiri. Jadi jika kalian –normal- merendahkan orang seperti kami, maka kalian sama juga merendahkan Tuhan yang telah menciptakan kami.

===

Sayup-sayup terdengar kicauan para burung yang terbang bebas diangkasa, sepertinya mereka akan kembali ke rumah –sarang- mengingat waktu yang sudah berlalu semenjak matahari yang sedari tadi telah memuncaki langit. Bila sudah seperti ini waktu tak akan terasa sudah cepat berlalu. Teriknya matahari seakan kian memudar seiring bergantinya hembusan sejuk pepohonan yang siap menghanyutkan suasana senja.

oppa, sepertinya kita pulang naik kereta saja. Ini sudah jam berapa ?”

Kyuhyun oppa merentangkan jemari tangan ku kemudian ia mulai melipatnya satu per satu. Dari mulai jempol, telunjuk, jari tengah, jari manis dan berakhir di jari kelingking. Ia memberitahu padaku bahwa saat ini sudah pukul lima sore. Berarti sudah cukup lama kami berjalan-jalan sepanjang hari ini, sungguh sangat tak terasa dan waktu terasa cepat berlalu.

Cara ia menyampaikan sesuatu memang sungguh beragam, ia menunjukkan segala sesuatunya dengan caranya sendiri. Bukankah sudah kukatakan jika kami saling belajar untuk saling berkomunikasi satu sama lian. Bahkan kami memiliki kode rahasia tersendiri yang mungkin orang lain tidak akan mengerti, apa itu ? Tentu saja aku tidak bisa memberitahukannya, karena ini RAHASIA.

“Kami pesan dua tiket” Saat ini kami sudah berada didepan loket untuk mendapatkan tiket kereta. Tugas Kyuhyun oppa adalah membantu ku menjadi sebuah ‘mata’ untuk sampai menuju tempat antrean loket dan setelah itu giliran tugasku selanjutnya, memesankan tiket untuk perjalanan kami pulang kembali ke panti. Seperti inilah cara kami, saling membantu satu sama lain.

Dengan matanya Kyuhyun oppa akan menuntunku ku dan dengan suaraku aku akan menyampaikan maksud dan tujuan kami nantinya. Bukankah hidup ini tak sesulit apa yang kita bayangkan.

Selama kurang lebih 10 menit kami menunggu di stasiun ini, akhirnya kereta yang kami nanti pun datang juga. Terdengar suara khas bunyi kereta semakin mendekat. Sepertinya banyak sekali penumpang yang akan menaiki kereta sore ini. Aku pun menggenggam lengan Kyuhyun oppa dengan sangat erat. Aku tak mau kehilangan Kyuhyun oppa ditengah keramaian seperti ini, akan sulit menemukan bagi kami berdua nantinya, mengingat kondisi kami yang cacat seperti ini.

Sebenarnya bisa saja aku menaiki gerbong khusus penyandang cacat yang telah disediakan oleh pihak pemerintah melalui stasiun ini, ingat hanya penyandang cacat yang nampak secara fisik. Mungkin jika bisa dikatakan seperti gadis buta sepertiku atau penyandang cacat yang menaiki kursi roda, atau semacamnya. Namun jika menilik fisik Kyuhyun oppa yang tak nampak seperti penyandang cacat pada umumnya, aku urungkan niat itu, karena aku sendiri tak ingin pisah darinya. Kami pergi bersama dan pulang juga harus bersama.

Kyuhyun oppa membantuku menaiki kereta dengan perlahan, ah sepertinya keadaan didalam kereta sedang penuh. Begitu terasa karena tubuh kami saling berhimpitan, tapi tak masalah bagiku.

Keadaan kereta mulai semakin penuh saat disetiap stasiun yang telah menaik-turunkan penumpang, saling himpit tak terelakkan lagi. Aku terdorong oleh salah satu penumpang lainnya dari arah belakangku, beruntung Kyuhyun oppa melindungiku, ia dengan sigapnya menggunakan dada bidangnya untuk melindungiku. Tercium aroma parfumnya yang begitu menyeruak, sangat khas begitu terasa memasuki melalui celah indra penciuman ku.

Ah apa kami terlihat seperti pasangan kekasih yang sedang kencan, mungkin jika orang yang melihatnya akan seperti itu. Seorang pria yang seakan sigap melindungi sang wanita dalam keadaan ramai seperti ini. Astaga, apa aku baru saja berkhayal Kyuhyun oppa ini sebagai kekasihku. Seohyun sadarlah, mana ada lelaki yang ingin dengan gadis buta seperti mu. Jika pun ada, mungkin ia juga seorang yang tak bisa melihat sama seperti dirimu.

Rasanya jantung ku berdetak sama seperti kereta yang melaju saat ini, sangat cepat. Apa jantung dan kereta ini sedang bersaing beradu kecepatan untuk segera mencapai garis finish. Kenapa disaat bersama oppa jantungku selalu tak karuan seperti ini. Mungkin ada yang salah dengan jantung ku ini, aku harus memeriksakannya ke dokter sebelum terjadi apa-apa nantinya.

Kereta terus melaju masih di relnya –tentu- beriringan dengan degup jantung yang terasa aneh menggelora didiriku. Berada didekatnya seperti suasana seperti ini membuatku merasakan perasaan yang lain tak biasa. Apa nama perasaan itu aku masih belum bisa menentukannya, perasaan seorang wanita kepada pria yang dianggapnya seperti malaikat tak bersayap. Apa kalian tahu, tolong beritahu aku ?

===

Hembusan angin malam begitu menyejukkan, terasa melewati bagian tubuh ini dan mampu menerbangkan sebagian rambut-rambutku yang sengaja ku gerai. Ini artinya sang malam sudah menghampiri.

Disebuah ayunan kayu ini kami menghabiskan malam yang tersisa. Aku dan Kyuhyun oppa memang senang sekali berada diayunan ini, sebuah ayunan kayu yang memang sengaja diletakkan dihalaman belakang ini. Ah, apa hari ini dilangit sana ada bintang ya ? Aku selalu bertanya pada Kyuhyun oppa, bagaimana rupa bintang itu, apa itu sesuatu yang bersinar, apa ia cantik. Mengapa banyak orang yang menyukai bintang ? Aku ingin melihatnya, sungguh. Lalu Kyuhyun oppa akan selalu menjawab dengan caranya dan berkata ‘Bintang adalah sesuatu yang sangat indah, sesuatu yang bersinar ditengah kegelapan langit malam’

Malam, kegelapan yang menggantung diatas langit. Kegelapan yang cantik jika dihiasi oleh gemerlip bintang, itulah yang sebagian orang katakan. Namun aku ini sama dengan mereka, hanya gelap tanpa seberkas cahaya yang hanya bisa kurasa, siapa bintang yang mampu menyinari ku. Bintang yang mampu menyinari dan menghiasi satu warna itu. Dapatkah kutemukan bintang itu.

‘Seohyun-ah, apa kau ingin melihat bintang ?’ Kyuhyun oppa bertanya.

Tentu saja aku ingin melihat, tapi melihat bintang dilangit bagaikan melakukan sesuatu hal yang sangat mustahil. Semua orang juga tahu, mana ada orang yang sepertiku dapat melihat. Kyuhyun oppa apa kau pura-pura bodoh jika aku ini buta, mana bisa aku melihatnya. Oppa sepertinya kau sedang mengejekku ya.

“Tentu saja, tapi bagaimana ? Aku kan tidak bisa melihat ?” Aku mendongakkan kepalaku keatas menatap langit. Berharap suatu saat aku bisa melihat indahnya bintang yang bersinar itu seperti apa, tapi tetap saja. Apa yang bisa ku lihat, aku tak melihat apapun. Tanpa kuduga, tangan kekar Kyuhyun oppa mengusap mataku menyuruhku untuk memejamkan mataku, begitu pelan terasa dimataku tangan lembutnya. Ayolah oppa, aku ini ingin meihat bintang bukannya kau suruh untuk pejamkan mata, toh memejamkan mata atau tidak juga tidak ada bedanya untukku. Semuanya sama saja, hanya gelap yang akan kulihat nantinya.

‘Pejamkan matamu, lalu kau bayangkan dan rasakan seberkas cahaya terang indah menyinari didalam kegelapan mu saat ini’

Entahlah, aku menuruti saja apa perkataannya. Kupejamkan mata ini, mencoba untuk merasakan dan membayangkan kehadiran sang kemilau sinar yang tampak menyilaukan –mungkin-. Selalu memimpikan dapat melihat indahnya dunia, berharap semua kegelapan ini akan berakahir, dan merasakan hadirnya beragam warna-warni yang mampu mengisi hari-hari ku kelak. Berbagai macam pemikiran itu selalu terlintas dibenakku. Selalu berdoa agar Tuhan ku dapat mengabulkan permintaan ku yang sederhana. Hanya untuk bisa melihat dunia ini dari kedua mataku.

Dengan perlahan sinar putih kecil itu meraba menapak didalam gelapku. Membayangkahn hadirnya warna selain hitam yang selalu menggelayut dalam benak ku. Seberkas sinar putih kecil yang terang dan sangat bersinar ditengah gelap. Cantik, teramat cantik sinar itu berkilau.

“Apa bintang seperti ini, oppa ini indah sekali”

‘Apa kau melihatnya ?’ Kyuhyun oppa bertanya.

Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. Masih terus membayangkan sinar putih itu. Tapi sayang, sinar itu tak bertahan lama hadir dalam bayangku. Sekejap itu pula ia menghilang, mengembalikan bayangan hitam yang selalu menemaniku (lagi). Apa bintang seperti itu, mengapa Tuhan tidak mengizinkan aku untuk melihatnya lebih lama lagi. Aku iri dengan orang yang bisa menatap bintang dilangit dengan sepuasnya. Baiklah mungkin nanti bintang itu akan hadir dalam mimpiku, semoga saja.

Dalam sekejap keheningan menyelimuti suasana malam ini, mengapa keadaannya jadi seperti ini. Kyuhyun oppa kenapa tak berbicara, biasanya ia akan melakukan ssesuatu hal yang kuanggap konyol hanya untuk sekedar mengisi waktu yang kosong. Ia akan selalu bercerita kisah-kisah yang bisa mengocok perut, ya meskipun keadaanya yang seperti itu tapi tidak sedikit pun hal itu menghambatnya. Bahkan ia berbicara layaknya orang normal, tak pernah menganggap dirinya memiiki kekurangan sedikitpun –jika sudah bersamaku-

Inilah yang kusuka dari dirinya, Kyuhyun oppa adalah lelaki yang tak pernah berkecil hati akan keadaannya yang seperti ini, meskipun dirinya tidak seperti layaknya orang normal pada umumnya yang seakan bebas untuk berbicara tanpa kendala. Ia masih bisa menghibur untuk orang lain, walaupun mungkin didalam hatinya ia merutuki takdir yang diberikan pada dirinya.

Ditengah pikiran diriku yang diselimuti oleh bayang-bayang Kyuhyun oppa, ah bagaimana ini aku begitu ingin tahu bagaimana rupa Kyuhyun oppa seperti apa. Aku ingin sekali melihat malaikat pelindungku ini, apakah ia tampan atau sangat tampan. Jika saja Tuhan menghendaki, beri aku waktu sebentar saja untuk sekedar menatap wajahnya, bahkan 5 detik pun tak masalah bagiku. Asal aku bisa menatap dirinya.

Memendam rasa penasaran memang sangat sulit, aku begitu ingin tahu sosok Kyuhyun oppa seperti apa. Saat bersamanya selalu saja jantungku berpacu dengan kecepatan tinggi yang bagaikan sebuah mobil ferari yang dikemudikan diseuah sirkuit panjang yang lurus. Entahlah perasaan ini muncul sejak kapan, aku pun tak menyadarinya sebenarnya bagaimana perasaanku terhadap Kyuhyun oppa ini.

Sampai Kyuhyun oppa tiba-tiba melingkarkan sebuah benda ke jari manisku yang kuyakini ini adalah sebuah cincin. Apalagi yang akan terpasang dijari kita kalau itu bukan sebuah cincin. Aku meraba bentuk cincin yang telah ia pasangkan itu, dari bentuknya cincin ini berbentuk seperti hati. Aku memasang raut wajah bertanya kepadanya, apa maksud semua ini. Tentu saja, aku tak bisa menerka bagaimana raut wajah Kyuhyun oppa.

oppa, kenapa kau memasangkan ku sebuah, apa ini cincin ?” Ia tak menjawab, apakah Kyuhyun oppa pergi, tapi tangannya masih menggenggam jemari ku ini. Apa yang sebenarnya ia lakukan ? Mengapa Kyuhyun oppa diam saja, tolong beritahu aku mengapa ia bersikap tiba-tiba seperti ini. dan sepertinya ada hembusan nafas didekat telingaku, hembusan nafas yang begitu pelan dan terasa menyejukkan. Apa Kyuhyun oppa ingin menciumku, tidak mungkin, ini benar-benar gila.

“Sa rang hae” itulah hembusan nafas yang terdengar, Kyuhyun oppa mengucapkan kalimat itu. Terasa begitu jelas terdengar ditelingaku. Sampai-sampai aku terdiam mematung, apakah telinga ku tak salah dengar, atau Kyuhyun oppa yang tak salah ucap.

oppa apa yang kau katakan?” Aku mencoba untuk menegaskan kembali arti ucapannya.

“Sa rang hae” Namun kembali kalimat itu yang terdengar ditelinga ku.

Terdiam beberapa saat, apa yang harus kukatakan padanya. Mengapa bibir ku terasa sulit untuk berbicara. Apa bibir ku ini ikut menjadi bisu seperti Kyuhyun oppa, ayolah apa bisu itu penyakit bisa menular, tidak kan ? Tapi mengapa aku jadi seperti ini. Aku ingin mengatakan sesuatu padanya.

Hati ku bergejolak berdegup begitu cepat. Apa yang harus aku katakan padanya. Ingin sekali aku membalas katanya dengan ‘Ya, aku juga mencintaimu oppa’ tapi aku tersadar siapa aku ini. Apakah gadis seperti ku bisa bersanding dengan orang seperti Kyuhyun oppa.

oppa tapi aku ini …” Sebuah jari menempel dibibirku, menyuruhku untuk berhenti berbicara.

‘Seohyun aku tahu kau memang seorang gadis buta, tapi kau jangan lupa kalau aku juga adalah seorang pria bisu’

Kyuhyun oppa mengucapkan dengan terbata kalimat itu. Sebuah kalimat yang menyadarkan ku betapa saat ini kami hanyala seorang manusia yang tak sempurna yang saling mengasihi satu sama lain. Bagaimana ini, mana mungkin Kyuhyun oppa jatuh cinta padaku. Apakah ini mimpi, tolong bangunkan aku siapapun beritahu aku kalau ini memang bukan mimpi dan benar adanya.

oppa….”

‘Maukah kau berada disisiku dan kita saling melengkapi bersama ?’

1 detik

2 detik

3 detik berlalu begitu saja memecah keheningan diantara kami, aku diam belum menjawab pertanyaannya.

Cinta sederhana yang hadir dalam hati kami mengalir begitu tulus, merambat merasuki jiwa kami perlahan. Apakah Kyuhyun oppa adalah bintangku, bintang yang akan menyinari ku, menjadi sinar dan menemaniku dalam kegelapan. Jika ya, tolong izinkan aku memiliki bintang ini, meskipun aku tak bisa memiliki bintang diatas langit sana tapi biarkan aku memiliki bintang yang satu ini.

Aku menggenggam tangannya, perlahan meraba setiap lekukan diwajahnya dan membayangkan rupa pria yang sangat kuyakini mencintaiku dengan setulus hati yang ia miliki, hingga aku merasakan bagaimana kedua mata Kyuhyun oppa yang masih bisa untuk melihat, hidungnya yang begitu mancung dan bibirnya yang tebal. Sampai kedua tangan ku ini berhenti dikedua pipinya yang terasa begitu halus, mengusapnya dengan lembut penuh kasih sayang. Menangkupkan kedua tangan ku dan tersenyum padanya, itulah yang saat ini tengah aku berikan untuknya. Ia tak berucap sedikitpun, diam menunggu sesuatu yang akan ku ucapkan –mungkin- sampai akhirnya aku mengatakan juga bahwa ‘Aku juga mencintai mu Kyuhyun oppa’ dengan ukiran senyum diwajahku, sungguh aku ingin melihat dirinya saat ini.

Na do Saranghae oppa

Rangkulan hangat menjadi sebuah pertanda awal dimulainya lembaran baru yang akan kami hadapi bersama nantinya. Dibawah bintang langit malam ini yang menjadi saksi ketulusan cinta kami yang saling bertautan, aku telah menemukan bintangku yang paling bersinar dan aku memilikinya malam ini. Tuhan, terima kasih kau memberiku sinaran yang tak ternilai harganya dari apapun itu. Aku yakin bintang ku ini akan selalu ada untukku dan terus bersinar selalu menyinariku.

Meskipun kala itu aku selalu menyalahkan Tuhan atas takdir yang ku alami, namun saat ini aku tak pernah menyesali takdir yang ia berikan itu kepadaku. Karena dengan seperti ini aku bisa menyadari dan memahami betapa kuat cinta yang diberikan-Nya untukku. Tuhan selalu mencintai dengan cara-Nya yang tak akan pernah kita duga.

Kekurangan yang ada pada diri kita dapat menjadi sebuah kesempurnaan jika itu diiringi oleh sebuah ketulusan cinta. Saling melengkapi untuk menyempurnakan sebuah arti yang disebut Cinta.

‘Meskipun mata ini selalu terasa gelap, tapi suara indah yang kumiliki ini akan kulantunkan selalu agar dunia ini bisa mendengar betapa besarnya cintaku untuk mu’ Seohyun

‘Suara ini memang buruk, tapi aku masih memiliki mata yang akan ku persembahkan padamu untuk merasakan indahnya dunia dan melihat betapa hebatnya cintaku padamu’ Kyuhyun

Ketulusan cinta dari sebuah ketidak sempurnaan

Hanya ketulusan yang bisa menyempurnakan Cinta

Siapapun berhak menerima dan merasakan tulusnya perasaan Cinta

Syukuri atas apa yang telah kau miliki, kekurangan yang kau dan orang lain anggap itu adalah suatu kelebihan yang ingin Tuhan berikan dengan caranya sendiri.

-END-

Ini hanya sebuah karangan fiksi semata, tidak ada maksud untuk menyinggung pihak manapun. Saya hanya berimajinasi dengan alam pikir saya saja. Jadi tolong pahami secara dewasa cerita ini, terima kasih.

Advertisements

17 thoughts on “The Honesty of Love

  1. nice! ff nya menyadarkan bahwa kekurangan dapat saling melengkapi semuanyaaaa….. seo yang normal menggunakan suaranya tetapi kyu tidak dan seo tidak menggunakan matanya dengan normal ttpi kyu bisa menggunakannya dengan normal

  2. Awal baca genre y sad,aku pikir salah satu tokoh y akan merasa tersakiti tp ternyata happy ending dan cerita y mengharukan.

  3. mewek bacanya. ngefeel banget.
    mereka nggak pantang semangat. mereka gak minder. sengan cinta mereka bersatu.

  4. ff nya keren+bagus banget.feel nya juga dapet bnget.kata2 nya pun aku suka,dan ending adalah yg pling ku suka.pokoknya 100 jempol deh buat authornya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: